Skip to main content

Perempuan dengan Hidup yang Maha Que Sera Sera

"Quesera-sera~ 
Whatever will be, will be
The future's not ours to see
Que sera sera~" 


Pernah dengar cuplikan lagu di atas? Cobalah dengarkan sejenak. Sejujurnya, saya sendiri mengenal lagu ini dari sebuah iklan semen merk H*lc*m ketika saya masih bocah dulu. Saya sengaja nggak nyantumin tautan ke link iklannya, soalnya saya nggak dibayar. Ehehehe. Pokoknya, iklan yang pake nada dan sebagian lirik lagu tadi terus-terusan nyantol di otak saya. Sampe-sampe saya searching lirik aslinya. 

Bisa jadi, lagu que sera sera ini merupakan soundtrack hidup saya. Ehehehe.. *minjem tagline salah satu stasiun radio yang hits di Jogja*. Kenapa? Karena memang hidup saya maha que sera sera. Apapun yang terjadi, terjadilah. *kali ini minjem potongan lirik lagunya Titiek Puspa yang kupu-kupu malam*. Kalau kata orang-orang yang katanya beriman, sih, manusia bisa berencana, tapi Tuhan yang memutuskan. Intinya, konon Tuhan punya rancangan tersendiri terhadap jalan hidup mereka yang ngaku umat-Nya.

Sejauh saya bisa ingat, keputusan untuk menyebut bahwasanya hidup saya ini maha que sera sera berangkat dari kebiasaan saya yang kadang manutan alias pasrahan. Manut sama orang tua maksudnya. Secara garis besar, hal ini terlihat dari cara saya memilih atau dipilihkan sekolah. Waktu taman kanak-kanak, saya di-TK-kan *karena bukan sekolah, jadi bukan di-sekolah-kan* di salah satu taman kanak-kanak swasta dekat rumah bersama kakak laki-laki saya. Saya kurang paham alasannya, mungkin sekadar biar gampang ngawasin. Saya cuma setahun jadi anak TK, dan masuk sekolah dasar barengan sama kakak saya. Nggak usah saya cantumin alasannya kenapa, yha. Nanti kesannya sepihak. Enggak "cover both sides". 
Singkat cerita, keputusan ini membuat saya menempuh pendidikan di sekolah dasar selama tujuh tahun. Tapi yang tahun pertama cuma dititipin, sih. Saya ngikut aja. Manut ibuk. Lagipula, SD tempat saya bersekolah terbilang dekat dengan SMP tempat ibu saya mengajar. Jadi, gampang dikontrol.

Memasuki masa Sekolah Menengah Pertama, lagi-lagi saya manut buat disekolahin di sebuah SMP swasta berbasis agama minoritas yang tak jauh dari rumah saya. Saya sendiri tidak betul-betul ingat bagaimana saya bisa dimasukkan dan diterima di sekolah ini. Pake rapor sepertinya. Que sera sera... Intinya, saya nggak banyak protes atau apa, meski lagi-lagi satu sekolah sama kakak saya. GIliran masuk SMA, baru saya nggak saksekolahan lagi. Soalnya sekolah kakak saya isinya "batangan" semua. Saya pun mendamparkan diri saya di sebuah SMA khusus perempuan di bilangan Kotabaru, Yogyakarta. Saya mengetahui sekolah ini pun secara tidak sengaja. Ceritanya, waktu SMP saya pernah disuruh buat ikutan semacam lomba yang berbau sains dan matematika. Jaman itu belom terlalu ketauan kalo otak saya ternyata lebih ke IPS. Kebetulan, lomba tahunan ini baru pertama kali diadakan. SMP kami bisa ikut serta karena ada salah satu guru kami yang suaminya bekerja di bagian laboratorium SMA khusus perempuan tersebut. 
Pada tahun terakhir di SMP, saya lantas mencoba mendaftar di SMA yang konon isinya pinter-pinter semua itu, lagi-lagi dengan rapor. Que sera sera... saya diterima. Entah kenapa, ketika itu bahkan saya tidak terpikir untuk mencari sekolah lain sebagai cadangan. Manut aja. Lagipula, saya dengar sekolah tersebut berkualitas. Di sekolah ini pun jadi ketahuan kalo ternyata otak saya lebih ke arah IPS. Padahal, jaman SMP sering males sama hapal-hapalan.
Lirik " que sera sera, whatever will be, will be..." pun kembali mengiringi langkah saya ketika menuju ke jenjang perguruan tinggi. Saya memang mendapat jatah untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri melalui jalur undangan, tetapi tidak lolos. Saya pun lantas mencoba ikut ujian tulis tanpa usaha untuk mendaftar di perguruan tinggi swasta sebagai cadangan. Kenapa? Embuh~  que sera sera pokoke. Ujian tulis pun saya memilih universitas yang sama? Kenapa? Manut ibuk. Di Jogja aja. Ibu saya pernah bilang, "Yang jauh-jauh aja pada kuliah di Jogja, kok kamu malah mau keluar kota." Meski sebenarnya saya bosen dari brojol sampe segede ini menempuh pendidikan formal di Jogja terus. Ya sudahlah. Toh jarene Jogja kota pelajar, jadi omongan ibu saya ada benarnya juga. 

Menjalani "Hidup yang Maha Que Sera Sera" macam ini bukan berarti saya sama sekali tidak pernah membuat rencana dalam hidup. Saya sekadar suka dikejutkan dengan bagaimana hidup saya akan berjalan. Laiknya lirik lagu tadi : Quesera-sera~ Whatever will be, will be. The future's not ours to see. Que sera sera. Semua penghuni bumi memang memiliki masa depan, namun tak semua dapat melihat masa depan secara jelas. Seperti yang tadi sudah saya bilang, biarkan segala sesuatunya mengejutkanmu. 
Let every-single thing surprise you every single time. 
Mungkin orang-orang penganut paham "Hidup -dengan segala ketidakmenentuannya- harus direncanakan secara benar-benar" bakalan menyanggah habis-habisan. Tapi, saya akui saya banyak belajar mengelola diri saya dari para visioner semacam ini. Tunggu dulu, begini-begini saya juga mempersiapkan masa depan saya, kok. Mempersiapkan diri dengan segala macam kejutan yang akan diberikan hidup kepada saya :). Bahkan, saya termasuk manusia bebal yang kerap menolak firasat. Lha wong saya nggak pernah ditembak sama yang namanya firasat. Mana bisa nerima. Eheheh.

Adios~


Comments

Popular posts from this blog

Pertanyaan-pertanyaan Tentang (Kedai) Kopi Yang Coba Saya Jawab Sendiri

Beberapa juta tahun cahaya yang lalu, saya sempat menulis mengenai enam pertimbangan dalam memilih tempat untuk nongkrong. Belakangan saya sadar, sebagian besar tongkrongan saya adalah kedai kopi, atau paling tidak menyediakan kopi dalam daftar menunya. Saya sadar, belakangan kedai kopi di Jogja kian menjamur seperti tugas akhir yang saya biarkan menganggurketika menulis postingan ini.

Sebelumnya, saya ingin meluruskan bahwa saya bukanlah seorang coffee snob , pendekar, atau apapun itu yang paham fafifu soal perkopian. Hamba sekadar mahasiswa yang butuh ruang yang nyaman untuk bersosialisasi maupun berindividualisasi. Sebagai seorang yang bukan ekstrovert dan nggak introvert-introvert amat, kedai kopi adalah tempat yang sesuai bagi saya untuk sekadar mojok dewean, menulis sesuatu, atau iseng baca webtoon dan yutuban. 

Sejujurnya saya merasa postingan ini agak tolol. Kalau mau, bisa saja saya wawancara orang yang betul-betul paham soal kopi. Tapi, toh ini bukan portal berita. Bukan pu…

Kedai IQ

Berkaitan dengan postingan saya yang ini, saya bermaksud membuat postingan lain. Ini postingan pertama saya terkait artefak hidup saya yang saya ambil secara acak dari tumpukan-tumpkan artefak lainnya. Karea kebetulan berupa struk tempat makan, mungkin postingan kali ini jatohnya malah kayak review tempat makan. Tapi, yasudahlah.. Suka-suka saya sajalah ya~


Jadi, ceritanya waktu (10/1) itu saya pulang natalan kmk fakultas. Sebenarnya sore itu saya juga diajakin dolan ke Edu park. Cuman yo waktunya nanggung, soalnya natalannya juga mulai sore-sore gitu. Karena dapat makan, Sebagai anak beriman, saya milih natalan dong. Karena pulangnya kurang malem, terus sebagian yang ikut natalan memilih untuk melanjutkan dengan karaokean. Saya sih ngikut, masih sore ini. Nah, habis karaokean, saya sama Adisti (teman saya yang ikutan karaokean jugak) ngerasa males aja kalo langsung pulang. Jadi, kami memutuskan untuk mampir nongkrong sambil ngemil. Karena saat itu sudah hampir tengah malam, kami semp…

7 Tempat Nongkrong Jogja yang Tetap Buka sebelum Waktu Berbuka

Samlekhomm~
Masih pada lancar puasanya? Yang nggak puasa, gimana? Nggak pada jajan sembarangan, kan?
Well, sebagai salah seorang oknum warga negara Indonesia yang sejak lahir tidak diwajibkan untuk berpuasa, belakangan saya sering kesulitan cari tempat nongkrong di Jogja. Yha, mau bagaimana lagi. Pergeseran jam operasional tentu merupakan hal yang wajar di bulan  yang konon kabarnya penuh barokah, ini. Sayangnya, jam operasional otak dan perut saya nggak bisa serta-merta ikut-ikutan geser. Waktu sahur aja saya hampir nggak pernah kebangun. Hehe.  Sementara itu, siang-siang perut saya juga sering keroncongan sembarangan, Kalau sudah begini, saya tentu cari tempat yang bisa memenuhi kebutuhan saya tersebut. Kebutuhan apa? Kebutuhan akan tempat nongkrong, tentunya. Yang jelas, tempatnya harus tidak terlalu terekspos khalayak ramai sehingga saya tidak memicu anak SD yang lagi belajar puasa dan lewat di sembarang jalan. Berdasarkan penelusuran langsung yang saya lakukan semenjak hari perta…