Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2013

Cocaffeine

I call it cocaffeine, dear. A kind of mix between joy and brain...*not literally*

Pagi ini ketika membuka membuka lemari pendingin, saya menemukan tiga macam minuman yang tentunya sudah dingin juga. Tiga minuman ini adalah cocacola yang (sepertinya) dibeli sabtu lalu, kopi kental tanpa gula yang (sepertinya) saya buat kemarin, dan sebotol kecil brem bali yang saya beli tidak sampai setahun yang lalu. Kebetulan warna ketiga minuman ini mirip-mirip. Sama-sama coklat tua kehitaman.

Pagi ini, sedikit lebih siang dari pagi yang tadi, saya pertemukan cocacola dan kopi tanpa takaran yang pasti ke dalam gelas yang sama. Iseng saja, toh kopi soda terdengar tidak berbahaya. Ternyata rasanya lumayan. Seperti paduan semangat ditambah semangat lainnya dalam versi yang berbeda. Cocacola yang mengusung kata semangat dalam taglinenya dan kopi yang memang tercipta untuk membantu manusia  untuk lebih semangat  membuka mata. Membuka mata disambi nugas misalnya. Btw, kalo boleh curhat, tugas saya belum k…

Menimbun Rindu

"Hai... "

"Hai... apakabar?"

"Baik. Kamu sendiri?"

"Baik juga, kok... Lama nggak ketemu nih kita."

"Iya nih..."

"Kamu aku hubungin kok enggak ngerespon?"

"Nggak papa kok.. memang sengaja."

"Kamu nggak pengen aku jadi bagian dari rutinitasmu, po?"

"Anggep aja gitu.. Aku memang nggak pengen terlalu sering ketemu atau denger kabar tentang kamu."

"Loh, kok gitu? Kamu tidak rindu??"

"Justru itu. Aku cuman pengen menimbun rindu."

"Kenapa harus ditimbun begitu? Tidakkah itu menyiksamu?"

"Tidak.. Aku sebisa mungkin tidak merasa tersiksa. Lagipula, ada bagusnya kan, kita jarang bertemu. Banyak hal yang bisa diceritakan apabila kita memang dipertemukan lagi nantinya. Aku juga cuma ingin merasakan sensasi yang muncul ketika rindu itu membeludak dan menyeruak. Ketika aku melihat kamu lagi. Ketika kita duduk bersama, hanya berdua diantara orang-orang asing, sehingga  hanya a…

Sebuah Percakapan tentang Seseorang

"Kalo aku ketemu dia tanpa sengaja, apa mungkin ini takdir?"

"Tergantung mindsetmu sih itu."

"Tapi, kamu tahu kan rasanya? Waktu itu, senja itu, aku duduk di sini, dan dia di seberang disana. Tadinya aku sudah mau pulang meski yang kukerjakan disini belum benar-benar menghasilkan kemajuan. Dan, tiba-tiba dia datang. Rasanya seperti ada menyemangatiku untuk melanjutkan pekerjaanku di sini."

"Yeah.. I know that feeling.."

"Padahal waktu itu ada lelaki lain yang mungkin menurut sebagian besar manusia lebih menarik. Lelaki lain itu bahkan dengan sopan berbicara denganku, meski hanya berbasa-basi. Tapi, bahkan pesona lelaki lain tersebut tidak bisa mengalihkan perhatianku akan dia. Dia yang duduk di seberang sana."