Skip to main content

Posts

Showing posts with the label tsurhat

Apa Faedahnya Tidak Buru-Buru Lulus?

Beberapa waktu lalu, saya menyempatkan diri membaca tulisan di salah satu media alternatif daring perihal kelulusan, khususnya soal mereka yang baru melepaskan status mahasisa setelah melalui semester dua digit seperti saya.   Tidak. Saya tidak akan mengemukakan   alasan saya kenapa baru bisa menuntaskan perkuliahan dan resmi menjadi “beban negara” usai menyandang status sebagai mahasisa selama 5 tahun 10 bulan agar tidak terlalu terlihat mencari pemakluman. Anggap saja saya sekadar mau membesarkan hati kalian-kalian yang belum juga sarjana. Bagaimana? Kurang baik apa saya, coba?  Jadi, berikut saya sampaikan beberapa faedah yang saya rasa hanya saya dapatkan lantaran saya pura-pura betah jadi mahasisa.  Punya Alasan Nongkrong di Koffisyop Kesayangan Koffisyop Kesayangan Berlama-lama menyandang status sebagai mahasiswa tingkat akhir membuat saya bisa punya alasan paling masuk akal untuk sekadar nongkrong-nongkrong gemas di koffisyop kesayangan. Tent...

Sebelum Sambat Soal Harga Secangkir Kopimu, Perhatikan Hal-hal Ini

"Kamu kaya, ya? Ke koffisyop situ melulu. Kan mahal" "Kamu kerja di S***sa, kan?" "Ngakunya miskin, kok tiap hari ke koffisyop!" Selamat pagi-siang-petang-senja-sore-malam-subuh, sanak saudara dan handai taulan sekalian! Belum lama ini saya iseng-iseng bikin voting di instagram yang kurang lebih begini bentuknya: Coba tebak ini di mana? :p Saya mengakui bahwa saya termasuk orang yang cukup sering nongkrong di koffisyop, baik dewean atau bersama teman. Bahkan pernah dalam satu minggu penuh, saya nongkrong di salah satu koffisyop langganan (kecuali kalau pas tutup). Saya cukup sadar jika ada potensi orang-orang di seberang sana (yang hanya memantau kondisi saya via linimasa) cenderung menganggap saya:  sok sugih, ngopi terus padahal kerjo wae durung , cuma menghabiskan duit dari orang tua,   boros, dan fafifu lainnya. Ini asumsi saya, sih. Tapi saya yakin ada yang begini kok, meski cuma disimpan dalam hati :)) Secara priba...

Menyadari Segmentasi

Sebagai mahasisa komunikesyen, terkadang saya merasa hina karena merasa belum punya pencapaian apa-apa di bidang media. Punya blog pun isinya unfaedah begini: random, ambyar, acakadut, dan jarang update . Kadang kala pengen riviu-riviu cantique macam temen saya ini . Tapi, apa daya. Saya mageran buat ngurusin blog sendiri. Kadang sempet iseng ikutan ngirim tulisan ke mana kek, gitu. Tapi, yha namanya juga lyfe. Kadang memang saya ngerjainnya nggak total dan baru kirim mepet dateline , atau malah kelewat sembarangan bikin tulisan yang mlipir dari tema. Alhasil, saya nggak kecewa-kecewa amat ketika memang tulisan saya nggak tembus. Lha, wong jarang ngirim~ Bicara soal tulisan yang nggak tembus dimuat, sebagai  mahasisa yang pernah kesasar ikutan UKM yurnalistique, sesekali saya pernah dengar ada dekadek yang sambat akibat tulisannya ditolak alias dianggap nggak layak muat lantaran kurang "receh". Diam-diam saya menghujat dalam hati ," Lha rumangsamu kowe nulis ng...

Motivasi Bodoh

"Astaga... kamu ngurusin badan cuman demi baju itu, cik?? "  Kalimat di atas entah benar-benar diucapkan oleh salah seorang teman, entah tidak. Saya tidak begitu ingat. Yang saya ingat adalah judul tulisan ini, salah satu tulisan yang nyaris membusuk di draft postingan blog saya. Ingatan yang seketika muncul lantaran Selasa kemarin (7/2) saya sok-sokan selo lantas menemui salah seorang teman kuliah saya yang sudah sahih menjadi sarjana. Sebut saja namanya Didi, yang kini sudah tidak lagi menyandang status sebagai beban negara maupun beban orangtua. Saya mengenal Didi semenjak awal kuliah, dan kami sempat sama-sama pergi ke Bali berdua saja. Sebuah kenekatan yang hakiki yang kala itu hanya bisa saya abadikan dengan memori lantaran saya belum memiliki ponsel pintar maupun kamera. Sunset di Sanur. Kayaknya yang ngefoto Didi. Ehehehe.  Laiknya teman lama (padahal terakhir ketemu juga baru kapan), kami banyak bercerita tentang macam-macam hal seperti bagaimana bisa tem...

Surat Wasiat

Tiga hari lalu, channel natgeo di yutub mengunggah video di atas. Saya lantas jadi teringat omongan random saya terkait 'apa yang akan kamu lakukan pada ragamu setelah mati?'. Omongan random ini sempat saya utarakan beberapa kali sebagai bentuk keprihatinan saya terhadap minimnya lahan pemakaman di salah satu kawasan tempat leluhur saya dimakamkan. Seperti layaknya masyarakat jawa yang setiap tahun berkunjung ke makam leluhur pada peringatan-peringatan tertentu, obrolan mengenai tergusurnya fungsi lahan pemakaman menjadi kawasan perumahan sudah menjadi percakapan rutin. Kebetulan pemakaman segelintir leluhur saya memang berada di kawasan perumahan. Sepintas, menarik memang melihat 'rumah masa kini' berdampingan dengan 'rumah masa depan'. Namun demikian, bukankah yang terbujur di dalam liang lahat sana tak punya kuasa untuk selalu 'hidup' nyaman di 'rumah masa depan' mereka? Sementara kehidupan-kehidupan baru terus-menerus menuntut untuk juga...

Love, Hate, and Need : Relasi Saya dengan Media Sosial

Don't hate the media. Become the media! (J. Biafra)  Kutipan diatas saya comot dari salahsatu bagian tembok yang terpampang di kantor jurusan saya. Maafkan jikalau tidak saya cantumkan gambarnya secara langsung karena kutipan ini memang nggak se- hits kutipan "Crafting well informed society" yang sering banget dipake buat background foto yang pada kelar pendadaran, Ehehehe. Yha, kantor jurusan saya belakangan dipindah ke lantai lima, sih. Tapi sepertinya kutipan-kutipan yang ditulis dengan warna putih dan latar biru bermotif kotak-kotak ini masih ada. Cuman saya juga nggak tahu dipindah di sebelah mana tepatnya. Baiklah. Kembali ke topik yang berkaitan dengan judul tulisan ini. Tanpa bawa-bawa embel-embel sebagai anak konsentrasi media, saya  adalah umat manusia yang terkadang atau sering turut serta dalam arus utama. Maksudnya, saya juga bagian dari para manusia yang memiliki beragam akun media sosial yang tersemat dalam gawai berbasis android di genggaman tanga...

Kembali ke Jalan yang Benar

"Kamu mau jadi jurnalis, cik?" kata seorang teman saya pada suatu masa. Pertanyaan yang entah kenapa menimbulkan kesan pernyataan. Imej jurnalis di mata saya adalah sosok yang setrong, tangguh, tabah, dan tawakal dalam menghadapi segala bentuk ketidakpastian. Selain itu, jurnalis juga sosok yang tahu tujuan. Untuk urusan tangguh, tabah, dan tawakal dalam menghadapi segala bentuk ketidakpastian, bisa jadi saya sesuai kriteria. Akantetapi, untuk urusan tahu tujuan, entahlah. Saya orangnya literally suka kesasar soalnya. Saya sudah buat menghapal jalan menuju suatu tempat. Ehehehe.  Ingatan saya meluncur pada masa di mana saya menjadi mahasiswa semester tiga, atau sekitar lima semester yang lalu. Kala itu saya tengah menjalankan wawancara sebagai  salah satu proses seleksi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bergerak di bidang jurnalistik. Iya, saya baru mendaftar pada tahun kedua sebagai mahasiswa. Hal ini bukan tanpa alasan. Pada tahun sebelumnya saya sempat berproses di dua ...

Segalanya Berubah

Selamat lewat tengah malam  pagi, sanak saudara dan handai taulan~ Entah udah berapa lama saya nggak ngisi blog ini dengan aneka macam tulisan yang maha random seperti biasanya. Sebenernya, saya masih nulis sih, cuman nggak diposting di blog ini aja. Belakangan lagi sibuk mencari kesibukan, soalnya. Ora ding.. Aku sibuk tenanan nganti ra sempet jogging barang.  Hiks. Padahal kan ono.... Duh, omongan saya jadi ngelantur gini. Maklum, udah lama nggak nyampah macam begini :').  Anyway, belum ada sebulan ini saya kembali menginjakkan kaki ke Yogyakarta setelah hampir dua bulan menjalankan tugas sekaligus kewajiban sebagai mahasiswa. Tugas yang mana? Skripsi po?? Oralah.. plis.. Saya baru sampai tahap KKN kok :'). * njuk ketauan angkatan piro * Biar keliatan KKN, kudu pajang foto pas pake baju KKN. Maunya nyari foto yang ramean. Sayangnya saya seringan jadi yang ngefoto, jadi...  ;') *update* Akhirnya nemu foto yang ramean. :) Well, yang namany...

Berlari Bebas dan Keseimbangan

Selamat menjelang pagi, khalayak ramai. Sepertinya saya cukup lama tidak menciptakan postingan yang menginspirasi sanak saudara dan handai taulan sekalian. *kemudian dikeplak* *biasane nyampah padahal*. Jadi, belakangan saya memang keseringan pulang malam dengan keadaan kelelahan. Sampai rumah langsung tidur, dan bahkan tidak sempat membersihkan wajah dan maskeran :( *ceritanya sedih*. Ya, mau bagaimana lagi. Tuntutan mahasiswa semester (ketoke) akhir memang demikian. Apalagi ini semester genap. Konon kabarnya semester-semester semacam inilah yang biasanya paling menguras waktu, tenaga , hati, dan perasaan.  Apalagi ditambah persiapan KKN yang makin dekat. Alhasil, rencana untuk menindaklanjuti postingan ini sekadar menjadi wacana belaka. Anyway , akhirnya saya, pada hari ini, sabtu (23/5), sembari memperdengarkan aneka bebunyian random melalui sonklot, saya ngepost di blog ini lagi. Mungkin jari-jemari saya gatel, pengen ngetik tulisan-tulisan random setelah akhirnya kembali me...

Diana Bercerita

Diana bercerita pada udara Diana bercerita pada udara, yang  tak punya telinga Diana bercerita pada udara, yang tak punya telinga dan tak punya mulut untuk bicara Diana bercerita pada udara,yang tak punya telinga dan tak punya mulut untuk bicara karena udara hanya perantara Diana bercerita pada udara Diana bercerita pada udara di jalan raya Diana bercerita pada udara di jalan raya karena cerita Diana terhempas angin jalan raya Diana bercerita pada udara di jalan raya karena cerita Diana terhempas angin jalan raya kemudian hilang tanpa sisa, seperti aroma kentut yang juga musnah dihempas udara Diana bercerita pada udara Diana bercerita pada udara, bukan sosial media

I have no best friend(s)

Selamat lewat tengah malam, insomnian! Happy Sunday~   Kalau malam (atau mungkin menjelang pagi) ini ada yang masih belum bisa tidur, saya pun demikian. Saya tadi habis dolan, terus ngopi  biar nggak ngantuk waktu nonton temen saya tampil di FKY Kleringan. Kemudian betah meleknya malah bablas sampe sekarang. Ya sudah, mending saya tsurhat sajalah. Jadi, barusan ini, saya dolan bareng dua makhluk  selo-ambyar yang kebetulan satu universitas dan punya dimensi keseloan yang beda tipis dengan saya. Kalau diingat-ingat, jujur saya tidak terlalu ingat bagaimana saya bisa dekat dengan manusia ambyar macam mereka. Tapi, keberadaan mereka di dunia membuat saya sadar akan satu hal yang terangkum dalam satu kalimat pada judul postingan ini. " I have no best friend(s) "*cmiiw*. Saya merasa tidak punya teman terbaik. Bukannya mau sok-sokan , karena toh saya masih cukup muda dengan bentukan ala dedek-dedek maba apabila dibanding dengan ibu saya. Pengalaman hidup saya terbilang sing...

Ke"tertabrak"an

Selamat malam, masyarakat.  Hari ini  Dua hari lalu, saya  kembali  tertabrak ketika mengendarai pingkan. Tolong, jangan khawatirkan saya. Lebih baik, khawatirkan saja pingkan  yang dengan segala kejahanaman semesta terpilih untuk dimiliki dan dikendarai oleh perempuan macam saya. Knalpot pingkan semakin retak. Iya. Semakin, karena entah kenapa tubuh bagian kanan pingkan selalu kena apes, entah karena nggasruk atau tertabrak pengendara lain.  Nah, kenapa saya mengatakan bahwa saya 'tertabrak', bukan 'ditabrak' ?? Saya rasa perihal tertabrak-tertabrakan ini sepenuhnya insidensial. Iya, kebetulan saja kami sedang sial. Tapi, dalam hal ini, saya sadar bahwa saya mempunyai andil dalam kejadian tertabrak-tertabrakan ini. Saya rasa, saya belum sepenuhnya mampu membaca sekitaran saya dengan benar. Ada kalanya saya terlalu memandang ke depan, tanpa memerhatikan belakang dan sisi-sisi samping saya. Mungkin, saya lelah. Tapi, toh kalau "lelah" selalu bisa jadi ala...

Membaca Tulisan Lama

"Cik, kamu kok lama nggak nulis di blog?" tanya seorang teman saya waktu kami nongkrong siang tadi. Pertanyaan tadi membuat saya (paling tidak) punya motivasi untuk membuat postingan ini, meski sejujurnya saya masih punya beberapa -kalau tidak boleh dibilang banyak- tulisan yang entah masih sepersekian jalan -belum ada setengah jalan-. Beberapa cerita bersambung   yang pernah saya tulis, -entah karena ikut seru-seruan event menulis jurusan atau memang saya sedang terjebak keseloan, atau menyelokan diri dalam ketidakseloan-, memang sudah saya lanjutkan, tapi, ya itu tadi. Masih belum ada setengah jalan, karena memang saya benar-benar sedang terjebak kemalasan kesibukan. Sibuk malas-malasan tepatnya. Jadilah tulisan-tulisan yang belum kelar tadi menginap, mengendap berhari-hari di draft.  Saya bukannya kehabisan bahan tulisan. Toh akhir-akhir ini saya lumayan sering keluyuran, dan -biasanya- keluyuran saya 'menghasilkan'. Tapi, sepertinya saya memang tidak sedang peka...

Melengkapi Masa Lalu

Manusia mana sih yang nggak bisa lepas dari masa lalu?? Entah masa lalu kamu suram, buram, kelam, padam, atau temaram, sedikit banyak pasti ada sisa-sisa cerita lama yang terekam dalam memorimu. Kalau kata orang sih, susah lepas dari bayang-bayang masa lalu berarti kamu nggak bisa move on. Tapi, kalo peristiwa yang udah lewat memang pantas buat dikenang, apa salahnya? Coba deh inget masa kecil kamu yang bahagia dulu,-buat anak 90'an sih ini  :)- dimana tiap hari kamu bisa nonton kartun sampe lupa belajar, tapi pelajaran di sekolah masih tetep bisa lancar dan nggak ambyar?? See?? How sweet ... Kalo memorinya kayak gini, kenapa musti dilupakan?? :p Bicara soal kartun/anime, akhir-akhir ini saya sedang suka nonton anime lawas yang dulu sempet nge hits jaman masih pake seragam putih-merah. Meski anime tersebut sudah di remake sedemikian rupa sehingga secara visual  lebih baik dari versi sebelumnya -yang saya tonton ketika SD-, tapi anime tersebut tetap meninggalkan kesan di be...

Cocaffeine

I call it cocaffeine, dear. A kind of mix between joy and brain...*not literally* Pagi ini ketika membuka membuka lemari pendingin, saya menemukan tiga macam minuman yang tentunya sudah dingin juga. Tiga minuman ini adalah cocacola yang (sepertinya) dibeli sabtu lalu, kopi kental tanpa gula yang (sepertinya) saya buat kemarin, dan sebotol kecil brem bali yang saya beli tidak sampai setahun yang lalu. Kebetulan warna ketiga minuman ini mirip-mirip. Sama-sama coklat tua kehitaman. Pagi ini, sedikit lebih siang dari pagi yang tadi, saya pertemukan cocacola dan kopi tanpa takaran yang pasti ke dalam gelas yang sama. Iseng saja, toh kopi soda terdengar tidak berbahaya. Ternyata rasanya lumayan. Seperti paduan semangat ditambah semangat lainnya dalam versi yang berbeda. Cocacola yang mengusung kata semangat dalam taglinenya  dan kopi yang memang tercipta untuk membantu manusia  untuk lebih semangat  membuka mata. Membuka mata disambi nugas misalnya. Btw, kalo boleh curhat, ...

Sebuah Percakapan tentang Seseorang

"Kalo aku ketemu dia tanpa sengaja, apa mungkin ini takdir?" "Tergantung mindsetmu sih itu." "Tapi, kamu tahu kan rasanya? Waktu itu, senja itu, aku duduk di sini, dan dia di seberang disana. Tadinya aku sudah mau pulang meski yang kukerjakan disini belum benar-benar menghasilkan kemajuan. Dan, tiba-tiba dia datang. Rasanya seperti ada menyemangatiku untuk melanjutkan pekerjaanku di sini." " Yeah.. I know that feeling.." "Padahal waktu itu ada lelaki lain yang mungkin menurut sebagian besar manusia lebih menarik. Lelaki lain itu bahkan dengan sopan berbicara denganku, meski hanya berbasa-basi. Tapi, bahkan pesona lelaki lain tersebut tidak bisa mengalihkan perhatianku akan dia. Dia yang duduk di seberang sana."

Jadi, Sakjane Hobi-ku Opo? (Jadi, Sebenarnya Hobi Saya Apa? )

"Mbak, suka nulis ya?? Dari kapan??" tanya seseorang. "Dari SD sih.. dulu punya buku harian, tapi terus ...." kata saya dalam keremangan selepas senja menuju malam. Percakapan terus berlangsung, ngalor-ngidul, entah kemana arahnya sampai seseorang tersebut bersama orang-orang lainnya  teman-temannya undur diri untuk menunaikan ibadah. Kemudian saya pulang menuju ke alamat yang tertera di kartu tanda pengenal saya. Pulang ke  rumah dengan skuter matic unyu warna pink, menelusuri jalanan dalam keremangan yang minim penerangan sembari sibuk dengan pikiran saya sendiri. Jalanan selalu menjadi salahsatu tempat favorit saya untuk merenung dan semacam berefleksi mengenai banyak hal.  Kembali lagi ke masalah refleksi . Pertanyaan  seseorang tadi memicu saya untuk kembali bertanya pada diri saya sendiri mengenai hobi apa yang sebenarnya saya sukai. Sejauh ini, kalau orang-orang bertanya, saya selalu menjawab dengan jawaban standar seperti jalan-jalan dan makan-ma...