Skip to main content

Posts

Showing posts with the label binatang

Racun Serangga (part1)

Sore ini sedikit berawan ketika aku tengah menikmati waktu istirahatku yang singkat dengan menghisap sebatang rokok. Jadwalku cukup padat akhir-akhir ini karena terlalu banyak kasus yang harus aku tangani. Aku harus berhadapan dengan kasus kriminal yang tidak pernah ada habisnya. Sebagian besar kasus tersebut berakhir dengan korban jiwa. Entah pencurian, penculikan, atau apa, pembunuhan dan kematian sepertinya menjadi tujuan akhirnya. Entah pembunuhan tersebut sengaja atau tidak disengaja, direncana atau tidak direncana. Intinya, hampir sebagian besar kasus yang kutangani berkaitan dengan orang mati. Ponselku berdering. Sebuah panggilan dari nomer rekan kerjaku. Sepertinya ada pekerjaan yang kembali harus kuurus.  "Halo.. ada kasus apa lagi kali ini?" tanyaku "Ada orang mati. Lagi-lagi..." kata suara di seberang telepon. Seorang rekan kerja bernama Ben. "Pembunuhan? terkait penculikan atau pencurian?" tanyaku lagi "Sepertinya bukan....

Jangkrik api

Aku adalah si jangkrik api. Masih bertetangga dengan semut api. Kebetulan kami tinggal di suatu teritori  yang dikenal sebagai negara api. Negara api yang membuat segala sesuatunya jadi berubah ketika melakukan penyerangan. Sebagai bagian dari negara api,  aku dan semut api juga ikut menyerang, meski cara penyerangan kami berbeda. Semut api menyerang dengan gigitannya yang panas dan buas.Mereka berbaris berjajar penuh semangat dan berapi-api sambil menggerogoti kepala seluruh makhluk bumi kemudian merembet dan merayap ke otak. Kepala jadi panas, otak panas. Suasana memanas, manusia makin ganas. Bahkan singapun kalah ganas dan hanya bisa terkulai lemas dengan wajah memelas. Sebagai jangkrik api, aku sebenarnya tidak punya niat untuk menyerang manusia. Bahkan aku merasa berguna karena bisa menjadi sumber cahaya, meski untuk mengantongiku, manusia harus memberikan pengorbanan dengan tarif tertentu, tergantung berapa standar induk semangku.  Warna-warni dan bentukan...

Camouflage

Kamu tahu kenapa ada sebuah kata yang bernama kamuflase?  Kalau tidak, kali ini aku akan memberitahumu. Kamuflase ada karena kamu... iya, k-a-m-u... kamuflase.. Kamu tahu kenapa ada kata flase setelah k-a-m-u? Coba kamu uraikan kata flase... f-l-a-s-e... f-a-l-s-e.. kamuflase, kamufalse? False.. salah, palsu.. itu artinya kamuflase memang bertujuan untuk membuatmu menjadi salah, Salah mengartikan keadaan.. salah mengartikan perasaan.. Untuk itulah.. sekarang aku tengah berkamuflase, Berdiam di dekatmu, tak berkutik Membuatmu tidak sadar akan keberadaanku, meski sebenarnya aku ada di sisimu Dekat.. begitu dekat.. sangat dekat.. sangat-sangat dekat.. Sampai akhirnya aku bisa menerkamu dalam kesunyian Dan mencabik tubuhmu yang mengigil gemetaran

Badak

Di sebuah hutan rimba rimbun berembun, hiduplah sekawanan badak. Ada badak bercula satu dan ada badak bercula tiga. Meskipun memiliki jumlah cula yang berbeda, mereka tetap hidup aman, nyaman, tenteram, damai, dan bahagia. Mereka hidup berdampingan dan saling membantu karena selain mengenai jumlah cula,  secara fisik mereka memang serupa. Mata, bibir, telinga, serta  kaki mereka  letaknya sama. Jumlahnya juga sama. Suatu hari, sekumpulan badak jantan muda sedang mengobrol di burjonan. Mereka terdiri dari badak bercula satu dan badak bercula tiga. Seperti badak-badak muda pada umumnya, mereka membicarakan mengenai badak betina karena beberapa dari para badak jantan muda tersebut belum punya pasangan. Padahal beberapa tahun lagi mereka akan memasuki usia perkawinan. Badak jantan muda yang sudah punya pasangan kemudian   memutuskan memperkenalkan badak-badak betina muda teman pasangan mereka.  Singkat cerita, sekumpulan badak jantan muda dipertemukan denga...

Kucing liar

Kucing-kucing itu berkeliaran, maka  mereka disebut liar. Atau karena tingkah mereka memang liar, maka mereka dikatakan berke-liar-an? Entahlah. Yang aku tahu, mereka bisa dijinakkan. Aku mempunyai seekor kucing hitam dengan mata kuning keemasan. Sebelah bola matanya terlihat retak, seperti kelereng kaca yang terbentur kelereng lainnya sehingga menimbulkan retakan celah superkecil,  tidak dalam. Panggil saja si kucing hitam ini kitty. Iya, kitty yang dilafalkan seperti  panggilan kesayangan boo untuk Sullivan, monster biru bertanduk dalam monster Inc, salahsatu film animasi yang mampu membocorkan kelenjar air mataku untuk sesaat.  Entah sudah berapa lama aku memelihara kitty sampai saat ini. Seingatku, dulu ibuku pernah memberi makan kucing hamil. Sepertinya kitty  adalah anak si kucing hamil  dan diberikan pada kami sebagai ungkapan terimakasih. Mungkin. Tadinya kitty tidak sendiri, tapi bersama saudaranya yang mendahuluinya pergi melepas nyawa ....

Kepiting Pasir Kecil

Alan adalah seekor kepiting pasir kecil. Seekor, karena begitu biasanya satuan hitung untuk binatang, meskipun saya tidak yakin alan memiliki ekor karena setahu saya ekor biasanya bisa meliuk-liuk seperti ekor kucing  atau bergoyang-goyang seperti pantat ekor itik. Lagipula kepiting memiliki cangkang, dan siapa tahu di dalam cangkang tersebut terdapat ekor.Atau mungkin salahsatu kaki kepiting sebenarnya adalah perkembangan dari ekor? Entahlah. Saya belum pernah membedah dan mencermati isi cangkang kepiting pasir kecil semacam alan dan malah membawa cerita ini semakin ngelantur tidak keruan. Baiklah, kita kembali ke cerita alan. Alan adalah seekor kepiting pasir kecil mungil. Tubuhnya sangat ringan sehingga seringkali tidak kuat menahan tiupan angin pantai. Warnanya menyerupai  pasir pantai dengan bintik-bintik kecil kecoklatan. Sepertinya supaya alan tetap aman dari pemangsa kepiting kecil. Tapi bukankah dengan begitu alan menjadi tidak mudah terlihat dan bisa saja terin...

Cicak

Cicak-cicak di dinding Sudah seharusnya mereka di dinding Merayap pelan, tidak harus diam Berdecak sehingga mereka pantas disebut cicak Cicak-cicak di dinding Merayap dari dinding ke dinding Berpindah melalui celah pintu Hingga tanpa sadar seorang manusia khilaf dan membanting pintu Cicak-cicak, seharusnya kamu tetap di dinding tadi Seperti lagu yang sering kudengar dulu