Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Alerta

Cita-cita Alerta

( sebelumnya ) Waktu ibadah telah usai ditandai kumandang lagu penutup. Bunda melangkah ringan  menuju ruangan tempat Alerta mengikuti sekolah Minggu. Pintu ruangan dan jendela-jendela berukuran besar sengaja dibiarkan terbuka agar udara pagi nan segar dapat masuk dengan leluasa. Bunda melongok melalui jendela. Di dalam ruangan berkarpet merah, tampak anak-anak masih berdoa dengan mata terpejam, kecuali Alerta. Sepasang matanya yang bulat tampak menyapu seisi ruangan, mengamati wajah-wajah khusyuk menunduk dengan mulut komat-kamit. Alerta sempat melihat Bunda sepintas, yang lantas melambai sembari menempelkan jari telunjuk kanan di depan bibir. “Sshhh... Berdoa dulu,” desis Bunda dengan gerak bibir yang jelas namun nyaris tanpa suara. Pengucapan ‘amin’ yang serentak menandai akhir dari sekolah Minggu kali ini. Anak-anak tampak tak sabar untuk lekas keluar menghambur pada orangtua masing-masing untuk meminta recehan dan membeli makanan ringan. Sebagian anak bahkan l...

Sekolah Kok Minggu Part 2: Pencerita Selain Bunda

(sebelumnya) "Alerta sudah pernah ikut sekolah Minggu?" tanya si biarawati manakala kaki mereka telah menginjak karpet merah. Pertanyaannya lantas disambut gelengan kepala Alerta. "Belum sus. Tapi... ini sekolah? Hari Minggu katanya untuk istirahat?" tanya Alerta polos. "Alerta di sekolah biasanya belajar apa?" "Macam-macam. Menulis, membaca, berhitung. Aku sudah lancar, kok. Soalnya Bunda juga ngajarin kalau di rumah." ungkap Alerta dengan bangga. Ia memang dikenal mahir ketiga hal tadi: menulis, membaca, dan berhitung. Manakala guru di sekolahnya mendikte soal ulangan, Alerta dapat dengan tangkas menyalinnya dalam bentuk tulisan tangan. "Kalau di sekolah Minggu, kita belajar sambil bermain sambil nyanyi bareng-bareng." "Tapi, Bunda pernah bilang kalau aku sudah besar. Harusnya aku tidak boleh keseringan main-main." " Lho, tadi katanya hari Minggu buat istirahat?" si biarawati mengulum...

Sekolah Kok Minggu (Part 1)

Minggu pagi, seperti biasa Alerta cilik mengikuti rutinitas Bundanya untuk beribadah. Kali ini tempatnya lain lantaran belum ada seminggu Alerta pindah rumah. Sebetulnya Alerta enggan lantaran ia tak boleh berlari-larian seperti anak-anak kecil lainnya. Bunda berdalih kalau Alerta sudah bukan kanak-kanak lagi, cukup besar karena sudah masuk sekolah dasar. Di depan pintu masuk rumah ibadah, lima orang berdiri berjajar menyambut siapapun yang datang sembari mengulurkan tangan untuk bersalaman. Mereka juga menunjukkan tempat duduk yang masih kosong manakala orang yang datang tampak kebingungan. Ketika Alerta masuk, salah satu dari kelima orang tadi membungkuk dan berbicara kepada Alerta. Seorang lelaki tua dengan rambut lurus sebahu dan mulai beruban. Rasa-rasanya cocok apabila dipanggil kakek oleh anak-anak seusia Alerta. “Adik sudah kelas berapa?” tanya si lelaki tua. “Kelas satu SD,” jawab Alerta malu-malu. “Oh, masih SD. Ikut sekolah Minggu saja sama teman-teman y...

Prediksi

Sumber: tahilalats “Ta, elo kenapa?” tanyamu ketika bertemu Alerta di lorong fakultas. Ia berjalan tertatih-tatih dengan ekspresi wajah menahan perih. “Gue habis bungee jumping sama trotoar,” seloroh Alerta sambil meringis. “Yaelah, seriusan. Itu kaki kenapa bonyok begitu? Kena begal lagi? Siang siang begini?,” semburmu. “Tadi ngerem di tikungan, gara-gara ada ibu-ibu belok sembarangan. Lagian, kasih tanda belok kiri, taunya lurus-lurus aja.” “Elo yang nabrak, atau ibu-ibunya?” “Gue yang hampir nabrak, tapi berhasil menghindar. Malah kena trotoar...” “Terus, ibu-ibunya?” “Ya... Sempat berhenti sebentar. Malah gue yang diomelin duluan. Apa salah hamba?” “Demi... Tapi memang kadang-kadang siapa yang berani ngomel duluan, justru yang bakal menang.” “Masalahnya, gue jadi inget nyokap. Doi pernah bilang kalau gue ngedumel liat ibu-ibu bawa motor sembarangan. Dikata kita lahir dari bongkahan batu, macam kera sakti, gitu?” “Tapi, elo sadar nggak k...

Pamit Dari Sore

Dear Alerta, Sebelum aku terlanjur berceloteh panjang-lebar, aku ingin mempersoalkan julukan yang kau lekatkan dengan sosokku. Sore? Kenapa tidak senja? Bukankah senja terdengar lebih intim dan romantis? Kau pernah dengar, kan, cerita tentang senja yang kemerah-merahan? Senja yang konon dapat dipotong dengan cara dikerat pada keempat sisinya, lantas disimpan dalam saku baju? * Mengakulah. Kau pasti tahu karena cerita sepotong senja ini dikisahkan oleh salah seorang pencerita favoritmu. Oke, aku ralat. Senja tak selamanya kemerah-merahan. Bisa jadi senja berwarna kebiru-biruan, bahkan keungu-unguan kelam seperti lebam-lebam yang menyisa di lenganku. Luka lebam yang muncul akibat hantaman seorang lelaki sialan bernama Benjamin, salah seorang seniorku semasa sekolah menengah atas. Benjamin mengaku mengenalmu dengan baik, meski entah sebaik apa. Seperti katamu, baik itu relatif bukan? Rupa-rupanya Ben tak terima dengan perlakuanku terhadapmu. Perlakuan macam apa, coba? "Alert...

Lelah Memilih

"La, kamu diet? Kok lama nggak beredar di linimasa?" tanya Alerta menyambut Ela yang baru saja menuju ke meja sebuah kofisyop.  Cangkir mungil di tangan kiri Alerta meyisakan noda-noda bekas espresso yang sudah ditenggak lima menit lalu. "Bukannya udah lama? Aku kurusan banget, apa? Kita jarang ketemu, sih... " cerocos Ela. "Maksudku.. kamu nggak pernah update lagi di medsos? Diet medsos, gitu? " "Ehehehe... Iya, Ta. Lagipula, kalau ada perlu, tinggal personal chat bisa, kan?" "Bukannya kamu dulu sering banget online? Main game online juga, bahkan. Kenapa sekarang sudah jarang? Padahal, dulu kamu bisa dapat tambahan uang jajan dari main game? " "Hmm... Simple sih, sebetulnya. Aku rasa, dunia offline ku sekarang jauh lebih menarik. Lagipula, bukankan postingan-postingan di media sosial cuma segelintir dari realitas? Selected reality, kalau aku bilang. Aku lelah memilih." "Memilih apa? Postingan? Tinggal pil...

Kalau

"Kalau kamu boleh memilih untuk dilahirkan kembali, kamu ingin jadi siapa?" tanya Han pada Alerta suatu pagi, sepulang dari s ebuah pantai dengan hamparan pasir putih yang kemilau diterpa purnama.  " Hmmm... Siapa, ya?" Alerta tercenung di sadel belakang motor yang mereka kendarai sembari berusaha menahan kantuk. Lagipula, Han butuh teman bicara agar mereka berdua tetap terjaga selama perjalanan menuju apa yang mereka sebut sebagai rumah. "Siapa? Public figure, mungkin?" pancing Han. "Aku rasa aku memilih untuk dilahirkan kembali sebagai diriku sendiri," jawab Alerta. "Kamu tidak ingin mengeksplorasi? Sekeren itukah hidupmu?" "Justru itu... Aku masih terlalu muda untuk memutuskan apakah hidupku cukup keren atau tidak. Lagipula, bukankah asyik kalau kita punya cadangan nyawa?" " Hmmm... Sebetulnya maksudku semacam reinkarnasi." "Kalau kamu, Han?" Alerta balik bertanya. "Kamu paham, ...

Papan Ketik Ruang Angkasa

Pukul tiga sore, aku masih berusaha mengumpulkan motivasi untuk tulisanku. Sesungguhnya kepalaku tidak kosong. Aneka macam ide liar didalamnya tengah sibuk bertengkar. Mungkin aku memang tak piawai melerai keributan, termasuk pergulatan dalam diriku sendiri. Lagipula, bukankah lebih baik apabila sebuah pertengkaran tidak dipendam, namun ditunaikan hingga tuntas? Aku lantas celingukan, menyapukan pandangan ke sekitar. Kondisi ruangan yang ku tempati sebetulnya sesuai dengan yang kubutuhkan. Luas, terang, dan semua orang sibuk dengan laptop mereka masing masing, memanfaatkan koneksi internet tak berbayar. Di sudut ruangan, aku menemukan sosok yang familier. Seorang teman lama yang bisa jadi nyaris setahun tak kutemui batang hidungnya, kecuali lewat postingan-postingan di linimasa yang melintas sekilas. Namanya Joni. Aku mengenalnya di sebuah kedai kopi 'terdekat' sudah setahun lebih. Kala itu, hampir semua bangku yang tersedia sudah diduduki. Hampir, lantaran kebetula...

Tentang Sore

"Kamu mengenal Sore ?? tanya Benjamin pada Mira. "Maksudmu? Sore yang mana? Senja??" Mira masih terkantuk-kantuk usai berkutat dengan dateline penyuntingan tulisan-tulisan yang serasa tak pernah usai. "Tidak, bukan. Senja dan sore tak bisa disamakan. Aku bertanya tentang manusia. Seorang lelaki bernama sore," Benjamin menerangkan. "Aih, Sore yang itu?? Tentu. Alerta sempat memperkenalkannya padaku." "Ya... ya... Tunggu, kita sedang membicarakan Alerta yang sama, kan? Aku mengerti, amat jarang seseorang memiliki nama Alerta di muka bumi ini. Tapi, tetap ada kemungkinan kalau kita membicarakan Alerta yang lain." Benjamin meragu. "Alerta yang mana lagi? Aku cuma kenal satu Alerta, dan... Ah, sudahlah. Bukankah kita akan membicarakan Sore? Lelaki yang suka pergi tanpa pesan, itu?" "Betul.. Betul... Lelaki yang benar-benar tidak sopan. Tidak menghargai perempuan." "Iya, paham, Benjamin yang beneran lak...

Beauty is Pain (Jare)

"Ren... Mencetin jerawat itu termasuk selfharming, nggak ?"  Sebaris pesan terpampang pada layar ponsel Darren. Jam pada aplikasi percakapan menunjukkan waktu telah berlalu dua jam lebih lewat tengah malam. Darren masih belum tidur. Matanya masih menelusur layar laptopnya, membaca komik bergenre thriller via webtoon. "Tergantung apa tujuanmu" "Mbok  apa-apa jangan melulu diartikan secara harafiah, to.."   Hanya butuh limabelas detik bagi Darren mengetik jawaban, namun baru terbaca di layar ponsel Alerta limabelas menit kemudian. Maklum, susah sinyal. "Tapikan, mencetin jerawat itu sakiiiit..." "Tapitapi.... beauty is pain, jare... " Dua baris balasan Alerta membuat kedua ujung bibir Darren tertarik sesaat. Sepintas Darren mengenang, bisa-bisanya dia betah berteman dengan perempuan macam Alerta. Semblilan tahun mereka bersekolah di kelas yang sama, Alerta tampak sudah banyak berubah. Meski sempat hilang kontak semasa...

Kopi Sobek

" Mbaknya suka kopi, ya?" seorang barista gondrong menyadarkan lamunan Alerta sembari meletakkan cangkir mungil di mejanya. "Iya, mas. Makanya ke kofisyop. Hehe..." jawab Alerta sekenanya. Kofisyop langganan Alerta tengah sepi siang ini. "Selalu pesan espresso, mbak?" " Ah... enggak juga. Kadang-kadang single origin. " " Nggak pake gula?" " Enggak, mas. Lumayan kan, hemat koffisyopnya, " ujar Alerta sembari menenggak secangkir espresso di hadapannya hingga tandas. "Kalau lagi di rumah, suka minum kopi juga?" "Kadang-kadang, mas. Bapak saya nggak suka kalau anaknya keseringan ngopi. Nggak sehat, katanya." "Minum kopi sobek, berarti?" "Jelas enggak, mas. Saya nggak minum yang begituan... Hehe.." Alerta meringis, memamerkan sederet gigi yang akrab terpapar nikotin dan kafein. "Wahh... Kok sangar? Nggak pakai gula, nggak minum kopi instan," si barista ...

Cintaku Padamu Hanya Pengalihan Isu

Minggu pagi, seperti biasa Mira menghabiskan akhir pekannya di tepi dermaga. Hempasan angin bergaram sedikit mengacaukan kerudung biru muda yang ia kenakan. Kabut laut yang asin melekat ke kaca matanya, memburamkan pandangan kala Mira memandang ke arah laut lepas. Pandangan Mira menelusur dari arah kiri, sepintas menyaksikan batu-batu karang yang terhempas gelombang menimbulkan suaran khas. Sesekali Mira menarik napas, seembali menyesap cokelat panas dalam gelas kertas di genggaman tangan kirinya. Sesap. Napas. Sesap. Napas. Sesekali pula mata Mira terpejam, khusyuk mendengar suara hempasan ombak pada batu-batu karang sembari merasakan hangatnya mentari pagi yang kilaunya memantul pada butiran pasir yang terhampar. Terdengar pula suara yang tak biasanya Mira dengar manakala tengah menikmati Minggu pagi di tepi dermaga. Suara sesenggukan, semacam tangis yang pelan dan tertahan. Mira membuka mata, kembali menyesap cokelat panas di genggaman tangannya, menenggak, kembali menajamkan pen...

Serum Kejujuran

"Han..." Alerta berbisik pelan pada Han yang tengah berbaring menikmati hening di hamparan pasir pantai putih dengan butir-butirnya yang kemilau diterpa purnama. "Ya, Alerta? " Han menyahut, sembari memandang bintang-bintang yang kemilaunya bersaing dengan hamparan pasir . "Ceritakan padaku tentang serum kejujuran," "Cerita macam apa yang kamu mau?" "Terserah kamu, Han. Bukankah kamu yang maha nganu?  Tokoh fiksi macam aku ini bisa memutuskan apa?" "Hmm... Baiklah. Sebetulnya aku punya beberapa kisah tentang orang-orang yang meminum serum kejujuran. Kamu juga pernah menenggaknya beberapa kali, bukan?" "Iya, Han... Iya.. Tapi... masa iya kamu bercerita kepadaku tentang diriku sendiri?" " Lho,  bukankah kejujuran yang terlontar usai seseorang menenggak serum kejujuran merupakan kejujuran yang terlontar tanpa sepenuhnya sadar? Untuk jujur pada dirimu sendiri saja bahkan kamu masih belum mampu, kan...

Perjalanan Alerta: Perpisahan

Darren dan Alerta melangkah dalam gerbong kereta yang tengah melaju dalam kecepatan cahaya.Meski melaju dalam kecepatan cahaya, langkah kaki-kaki mereka samasekali tak goyah. Teknologi memang luar biasa. Bahkan seorang pencerita tua berjambang putih pun melangkah menuju tempat duduknya dengan tenang, tanpa tampak tergoncang-goncang. Hampir seluruh tempat duduk di gerbong tersebut sudah diduduki manusia. Sejenak, Alerta melirik nomor tempat duduk yang tertera di lembaran tiketnya. 16 A, bersebelahan dengan Darren. Alerta pun bisa leluasa apabila ingin duduk di sebelah jendela sembari mengamati lintasan perjalanan, atau di sisi satunya apabila memilih untuk mengamat-amati penumpang lain yang juga sesama pencerita. Tak seberapa lama mereka telah duduk di bangku bernomor 16.  "Perjalanan kita masih panjang. Aku ceritanya ntar aja , ya," Darren memulai percakapan. "Terus, kita ngapain selama awal perjalanan ini?" "Begini... Aku punya permainan....

Konferensi Pencerita

Alerta, seorang perempuan muda yang selalu mengenakan lipstick merah tua, baru saja akan pindah ke sebuah kota kecil demi memulai hidup baru. Kota kecil nan teduh dan tenang, di mana orang-orang tak pernah mengeluh dengan teramat riuh. Kota kecil dengan sebuah danau jernih yang membentang dan membuat suasana kian teduh, di mana ikan-ikan berkecipak tanpa menimbulkan kesan gaduh. Alerta memilih hijrah dari sebuah kota metropolutan  bukan tanpa alasan. Di satu sisi, Alerta tak keberatan atau bahkan menyukai karakter manusia-manusia individual yang berdiam di kota metropolutan itu tadi. Manusia-manusia yang dengan bebasnya mengasapi minimarket 24 jam di tepi-tepi jalanan beraspal. Manusia-manusia yang tak terlalu ambil pusing dengan apa yang akan mereka makan, namun betul-betul mempertimbangkan pakaian macam apa yang akan mereka kenakan. Sebagai bagian dari segelintir umat manusia yang tak suka mencampuri urusan orang lain, kondisi kota metropolutan terbilang relatif ideal ...

I dare you, Dear!!

sebelumnya ... *** "Darren!!" Alerta menegur Darren yang tampak sedang melamun. Siang itu terik dan Alerta memang sengaja mengajak Darren untuk menemaninya nongkrong.Alerta mencoba melupakan masalahnya dengan Darren kemarin malam, terlebih setelah Darren mendapat luka lebam di pelipisnya karena dihantam oleh Hans ketika Darren menemui Alerta. Alerta merasa bersalah karena memang pukulan tersebut merupakan bentuk pembelaan Hans sebagai sepupunya. Lagipula, Darren sudah minta maaf pada Alerta dan mengaku sadar akan kesalahannya. Bagi Alerta, itu sudah cukup. Maka dari itu, sebagai ungkapan rasa bersalah, Alerta mentraktir Darren makan siang. " Gimana  luka kamu? Masih sakit?" tanya Alerta. Jemarinya menelusur perlahan memeriksa lebam di pelipis Darren. "Dikit.. " Darren  nyengir.  Jemarinya meraih sekotak rokok di meja dan mengambil sebatang kemudian mencari-cari pemantik di saku celananya. Alerta pun dengan segera menyodorkan pemantik mungil warna...

Nelayan Pemuja Rembulan

"Belum tidur kamu, nak?" tangan bunda membelai kepala Alerta, putrinya yang tengah berbaring di ranjang namun belum memejamkan mata. "Belum ngantuk, nda... Ceritain sesuatu dong buat bahan mimpi nanti." jawab Alerta "Kamu mau cerita tentang apa? Dongeng tentang putri dan ksatria??" sang bunda masih membelai lembut kepala putrinya. "Enggak ah.. Bosen.. Ceritanya gitu-gitu aja. Yang lain dong, nda.." pinta Alerta "Yaudah. Bunda cerita soal nelayan aja, ya. Nelayan pemuja rembulan." *** Dahulu kala, di sebuah pulau terpencil berpasir hiduplah seorang nelayan. Nelayan tersebut hidup seorang diri karena memang pulau yang dia tinggali terlalu kecil untuk dijadikan tempat tinggal bersama. Sesekali memang ada beberapa orang yang mampir karena tersesat ataupun kelelahan.Namun mereka tidak pernah tinggal terlalu lama karena memang tidak ada banyak hal yang bisa mereka dapat dari pulau terpencil berpasir tersebut. Mereka hanya melihat...

Bekas Luka

Hari sudah petang ketika manusia-manusia nokturnal mulai keluar, menjalani rutinitas manusia normal dengan waktu yang berkebalikan. Mereka bukan vampir ataupun drakula. Mereka hanya terlanjur terjebak dalam rutinitas yang sama; tidur terlalu larut atau bahkan terlalu pagi sehingga menjadi terlalu lelah untuk bangun dan memilih untuk melanjutkan tidur hingga senja lewat. Lagipula memang pekerjaan mereka banyak dilakukan di malam hari dan otak mereka terlanjur terprogram untuk digunakan secara maksimal tanpa sinar matahari.  Sebenarnya, malam bukan hanya milik manusia nokturnal. Beberapa manusia dengan waktu tidur normal juga sering meluangkan waktu ketika malam menjelang, bahkan hingga pagi datang, atas nama rasa bosan akan rutinitas atau karena kebetulan ada urusan. Alerta misalnya, sengaja keluar malam ini, memenuhi janji dengan seorang yang kebetulan hanya bisa ditemui pada waktu malam, Burhan, atau biasa dipanggil Hans, sepupu Alerta sekaligus tempat paling tepat baginya untu...