Tuesday, May 16, 2017



Waktu ibadah telah usai ditandai kumandang lagu penutup. Bunda melangkah ringan  menuju ruangan tempat Alerta mengikuti sekolah Minggu. Pintu ruangan dan jendela-jendela berukuran besar sengaja dibiarkan terbuka agar udara pagi nan segar dapat masuk dengan leluasa. Bunda melongok melalui jendela. Di dalam ruangan berkarpet merah, tampak anak-anak masih berdoa dengan mata terpejam, kecuali Alerta. Sepasang matanya yang bulat tampak menyapu seisi ruangan, mengamati wajah-wajah khusyuk menunduk dengan mulut komat-kamit. Alerta sempat melihat Bunda sepintas, yang lantas melambai sembari menempelkan jari telunjuk kanan di depan bibir.

“Sshhh... Berdoa dulu,” desis Bunda dengan gerak bibir yang jelas namun nyaris tanpa suara.

Pengucapan ‘amin’ yang serentak menandai akhir dari sekolah Minggu kali ini. Anak-anak tampak tak sabar untuk lekas keluar menghambur pada orangtua masing-masing untuk meminta recehan dan membeli makanan ringan. Sebagian anak bahkan langsung menuju ke parkiran tempat aneka macam makanan dijajakan. Alerta menginjak sepatunya secara asal-asalan, kemudian berjinjit ke arah Bunda.


“Halo, sayang. Tadi ngapain aja kamu?" sambut Bunda.

"Tadi kita mendengarkan cerita, Bunda," sahut Alerta.

"Oh ya? Cerita tentang apa, sayang?" 

"Cerita tentang anak kecil yang bercita-cita untuk menjadi pencerita," jawab Alerta. Bunda menyimpan heran dalam gumam. Bukankah terlalu dini untuk membicarakan cita-cita pada anak sebaya Alerta?





Post a Comment:

Designed By Blogger Templates | Templatelib & Distributed By Blogspot Templates