Skip to main content

Posts

Showing posts with the label sambungan

I dare you, Dear!!

sebelumnya ... *** "Darren!!" Alerta menegur Darren yang tampak sedang melamun. Siang itu terik dan Alerta memang sengaja mengajak Darren untuk menemaninya nongkrong.Alerta mencoba melupakan masalahnya dengan Darren kemarin malam, terlebih setelah Darren mendapat luka lebam di pelipisnya karena dihantam oleh Hans ketika Darren menemui Alerta. Alerta merasa bersalah karena memang pukulan tersebut merupakan bentuk pembelaan Hans sebagai sepupunya. Lagipula, Darren sudah minta maaf pada Alerta dan mengaku sadar akan kesalahannya. Bagi Alerta, itu sudah cukup. Maka dari itu, sebagai ungkapan rasa bersalah, Alerta mentraktir Darren makan siang. " Gimana  luka kamu? Masih sakit?" tanya Alerta. Jemarinya menelusur perlahan memeriksa lebam di pelipis Darren. "Dikit.. " Darren  nyengir.  Jemarinya meraih sekotak rokok di meja dan mengambil sebatang kemudian mencari-cari pemantik di saku celananya. Alerta pun dengan segera menyodorkan pemantik mungil warna...

Racun Serangga (part 2)

cerita sebelumnya... Suasana rumah sakit cukup ramai, meski keramaian ini tidak bisa menutupi aura dingin yang menyeruak. Semua orang tahu bahwa rumah sakit bukan merupakan tempat yang nyaman bagi banyak orang, termasuk bagiku sendiri. Pekerjaanku memang menuntutku untuk sering mengunjungi rumah sakit demi penyelidikan atas kasus yang kutangani. Meski begitu, aku tidak pernah merasa terbiasa apalagi nyaman dengan tempat semacam ini. Aku melangkah, mencari sosok Adrianna di deretan orang-orang yang tengah duduk di bangku-bangku panjang sambil mengenggam dua papercup  berisi kopi manis hangat. Samar-samar, aku bisa membayangkan wajahnya yang terlihat dalam foto-foto di tempat kejadian tadi. Aku melihatnya. Duduk sendirian dengan perasaan yang tidak dapat kugambarkan dengan tepat. Raut wajahnya memancarkan kesedihan. Dia tampak terguncang. Kusodorkan kopi yang kubawa kepadanya sambil memperkenalkan diriku. "Adrianna? Perkenalkan, aku Valerie. Panggil saja Val." kataku. Ke...

Lelaki yang tidak dinamis

sebelumnya ... Vanilla latte di cangkir  Alerta yang masih setengah penuh menjadi semakin dingin, menyamakan suhu dengan udara di luar ruangan. Sebenarnya malam ini cukup indah. Bulan terlihat begitu jelas , bulat penuh, dan berbinar. Sayang, perasaan Alerta tidak begitu baik. Segalanya tidak seindah yang dilihat orang-orang kebanyakan. Orang-orang yang antusias memandang bulan bulat penuh nan berbinar sembari mengabadikannya dengan jepretan kamera atau dengan memori di kepala. Ponsel Alerta bergetar sebentar, tanda ada pesan masuk . Dilihatnya sekilas.Darren. Lelaki yang baru saja ia bicarakan dengan Hans ternyata mengirim pesan singkat. Alerta tampak malas menanggapinya dan menunjukkan pesan singkat yang isinya hanya basa-basi itu pada Hans. " Nih.. Panjang umur. Barusan diomongin, udah sms aja." kata alerta sambil menyodorkan ponselnya. Hans menerimanya, mencermati pesan singkat dari Darren ke Alerta tanpa berkomentar. Lagipula komentarnya tidak akan mempengaruhi k...

Racun Serangga (part1)

Sore ini sedikit berawan ketika aku tengah menikmati waktu istirahatku yang singkat dengan menghisap sebatang rokok. Jadwalku cukup padat akhir-akhir ini karena terlalu banyak kasus yang harus aku tangani. Aku harus berhadapan dengan kasus kriminal yang tidak pernah ada habisnya. Sebagian besar kasus tersebut berakhir dengan korban jiwa. Entah pencurian, penculikan, atau apa, pembunuhan dan kematian sepertinya menjadi tujuan akhirnya. Entah pembunuhan tersebut sengaja atau tidak disengaja, direncana atau tidak direncana. Intinya, hampir sebagian besar kasus yang kutangani berkaitan dengan orang mati. Ponselku berdering. Sebuah panggilan dari nomer rekan kerjaku. Sepertinya ada pekerjaan yang kembali harus kuurus.  "Halo.. ada kasus apa lagi kali ini?" tanyaku "Ada orang mati. Lagi-lagi..." kata suara di seberang telepon. Seorang rekan kerja bernama Ben. "Pembunuhan? terkait penculikan atau pencurian?" tanyaku lagi "Sepertinya bukan....

Rahasia semu dalam kabut

Seharian ini aku tidak melihat Arina, teman kuliahku yang juga tinggal serumah denganku. Catatan kuliahku dia pinjam, padahal aku sedang butuh untuk mengerjakan tugasku secepatnya. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan mengambilnya sendiri.  Mataku menelusur tumpukan buku di meja kamar Arina, berharap bisa menemukan buku catatan warna biru muda milikku. Tanpa butuh waktu lama aku menemukannya, tertindih buku lain dengan warna magenta. Sepertinya semacam buku cerita karena terlihat ada gambar tokoh dongeng di dalamnya. Dua orang wanita dengan wajah serupa, bahkan sama persis saling berhadapan dengan sebuah kotak kaca berisi permata di dalamnya. Aku tertarik untuk membaca isinya yang ternyata mirip buku harian dengan tanggal yang tertulis pada sudut kanan atas tiap-tiap halamannya. Mirip, meski aku yakin ini bukan buku harian karena isinya terlalu konyol untuk dianggap sebagai realita.  Ada sebuah kisah mengenai kotak kaca penyimpan rahasia.  Konon kotak ...