Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2016

7 Tempat Nongkrong Jogja yang Tetap Buka sebelum Waktu Berbuka

Samlekhomm~
Masih pada lancar puasanya? Yang nggak puasa, gimana? Nggak pada jajan sembarangan, kan?
Well, sebagai salah seorang oknum warga negara Indonesia yang sejak lahir tidak diwajibkan untuk berpuasa, belakangan saya sering kesulitan cari tempat nongkrong di Jogja. Yha, mau bagaimana lagi. Pergeseran jam operasional tentu merupakan hal yang wajar di bulan  yang konon kabarnya penuh barokah, ini. Sayangnya, jam operasional otak dan perut saya nggak bisa serta-merta ikut-ikutan geser. Waktu sahur aja saya hampir nggak pernah kebangun. Hehe.  Sementara itu, siang-siang perut saya juga sering keroncongan sembarangan, Kalau sudah begini, saya tentu cari tempat yang bisa memenuhi kebutuhan saya tersebut. Kebutuhan apa? Kebutuhan akan tempat nongkrong, tentunya. Yang jelas, tempatnya harus tidak terlalu terekspos khalayak ramai sehingga saya tidak memicu anak SD yang lagi belajar puasa dan lewat di sembarang jalan. Berdasarkan penelusuran langsung yang saya lakukan semenjak hari perta…

Perjalanan Alerta: Perpisahan

Darren dan Alerta melangkah dalam gerbong kereta yang tengah melaju dalam kecepatan cahaya.Meski melaju dalam kecepatan cahaya, langkah kaki-kaki mereka samasekali tak goyah. Teknologi memang luar biasa. Bahkan seorang pencerita tua berjambang putih pun melangkah menuju tempat duduknya dengan tenang, tanpa tampak tergoncang-goncang. Hampir seluruh tempat duduk di gerbong tersebut sudah diduduki manusia. Sejenak, Alerta melirik nomor tempat duduk yang tertera di lembaran tiketnya. 16 A, bersebelahan dengan Darren. Alerta pun bisa leluasa apabila ingin duduk di sebelah jendela sembari mengamati lintasan perjalanan, atau di sisi satunya apabila memilih untuk mengamat-amati penumpang lain yang juga sesama pencerita. Tak seberapa lama mereka telah duduk di bangku bernomor 16. 
"Perjalanan kita masih panjang. Aku ceritanya ntar aja, ya," Darren memulai percakapan.
"Terus, kita ngapain selama awal perjalanan ini?"
"Begini... Aku punya permainan. Bagaimana kalau aku meng…

Konferensi Pencerita

Alerta, seorang perempuan muda yang selalu mengenakan lipstick merah tua, baru saja akan pindah ke sebuah kota kecil demi memulai hidup baru. Kota kecil nan teduh dan tenang, di mana orang-orang tak pernah mengeluh dengan teramat riuh. Kota kecil dengan sebuah danau jernih yang membentang dan membuat suasana kian teduh, di mana ikan-ikan berkecipak tanpa menimbulkan kesan gaduh. Alerta memilih hijrah dari sebuah kota metropolutan bukan tanpa alasan. Di satu sisi, Alerta tak keberatan atau bahkan menyukai karakter manusia-manusia individual yang berdiam di kota metropolutan itu tadi. Manusia-manusia yang dengan bebasnya mengasapi minimarket 24 jam di tepi-tepi jalanan beraspal. Manusia-manusia yang tak terlalu ambil pusing dengan apa yang akan mereka makan, namun betul-betul mempertimbangkan pakaian macam apa yang akan mereka kenakan. Sebagai bagian dari segelintir umat manusia yang tak suka mencampuri urusan orang lain, kondisi kota metropolutan terbilang relatif ideal bagi perempuan…