Skip to main content

Posts

Showing posts with the label pertjakapan

Ditunggu

photo source "Dek, nanti bisa ikut kondangan, kan? Di Wisma Kagama, lho," ujar ibu pagi itu.  Cuaca tampak kelabu berdebu, seakan mendung. Abu kelud yang menyembur terbawa angin hingga ke kotaku. "Jam berapa? Aku mau rapat tema," sahutku. Memang beginilah rutinitasku tiap sabtu pagi. Bahkan jalanan yang berselimut abu dan sebelah mataku yang kelilipan debu kurasa bukan alasan yang cukup untuk mangkir dari rutinitas tersebut. Alasannya sepele. Ada yang tengah menungguku. "Sore kok. Hujan abu begini mau jauh-jauh ke kampus? Mbok nggak usah aja ," ibuku menanggapi. Aku tahu beliau pasti khawatir putrinya berkendara dengan kondisi jalan yang embuh.  "Aku ditunggu, soalnya. Nggak papa. lah. Sekalian liat-liat. Nanti aku balik kok, bisa ikut kondangan," sahutku. Tak berapa lama, aku memacu skuter matic warna merah jambu. Benar saja. Jalanan tampak buram penuh debu. Pun aku tak berani memacu motorku terlalu laju. Aku harus tiba di tujuan, ...

Trust

"Do you trust them?" tanyamu di suatu hari gerimis. "Yeah.. sure..." jawabanku mengalir sedingin udara yang menyelimuti kita. "Tapi kamu belum cerita kejadian malam itu pada mereka?" "Sudah..." "Dan perlakuan mereka tetap sama?" "Sepertinya begitu..." "Tunggu dulu.. Apakah kamu benar-benar menceritakan kejadian yang sebenar-benarnya? " " I told them... as a jokes... Ceritaku sejalan dengan bagaimana cara ibuku menceritakan kejadian itu pada mereka." " Seriously?  Jangan begitulah. Apa salahnya sih berkata jujur? Apa karena mereka tidak sekelamin denganmu?" "Loh, aku sudah jujur kok. Please, jangan bawa-bawa selangkangan..." jawabanku makin ketus. "Kalau kamu jujur, mungkin mereka akan memperlakukanmu lebih baik" "Mungkin aku tidak ingin pencitraanku runtuh," "Cihh... Masih mikirin pencitraan. Katanya mau bikin citra baru?" "E...

Perasaan Rahasia

"Heh, kamu kok nggak pernah cerita tentang dia?" "Cerita atau enggak, nggak akan ada bedanya juga sih. Lagipula, aku jarang komunikasi sama dia" "Kok gitu? Katanya kita temenan?? Temen deket malahan." "Tapi itu hak aku, kan  buat milih cerita tentang apa dan cerita ke siapa." "Jadi, kamu cerita tentang ini ke temen kamu yang lain, selain aku? " "Bisa jadi. Kan aku udah bilang, itu hak aku. Mau aku simpen sendiri pun, bukan masalah kan." "Nggak usah sok  kuat deh. Nggak perlu sok-sokan   menimbun rindu . Nggak perlu juga sok-sokan nggak pengen tau kabar dia sekarang gimana!" "Bukannya gitu. Tapi perasaan itu memang kayak rahasia. Makin banyak yang tahu, makin banyak saksi, makin susah buat hilang atau dilupain."

Menimbun Rindu

"Hai... " "Hai... apakabar?" "Baik. Kamu sendiri?" "Baik juga, kok... Lama nggak ketemu nih kita." "Iya nih..." "Kamu aku hubungin kok enggak ngerespon?" "Nggak papa kok.. memang sengaja." "Kamu nggak pengen aku jadi bagian dari rutinitasmu, po? " "Anggep aja gitu.. Aku memang nggak pengen terlalu sering ketemu atau denger kabar tentang kamu." "Loh, kok gitu? Kamu tidak rindu??" "Justru itu. Aku cuman pengen menimbun rindu." "Kenapa harus ditimbun begitu? Tidakkah itu menyiksamu?" "Tidak.. Aku sebisa mungkin tidak merasa tersiksa. Lagipula, ada bagusnya kan , kita jarang bertemu. Banyak hal yang bisa diceritakan apabila kita memang dipertemukan lagi nantinya. Aku juga cuma ingin merasakan sensasi yang muncul ketika rindu itu membeludak dan menyeruak. Ketika aku melihat kamu lagi. Ketika kita duduk bersama, hanya berdua diantara orang-orang...

Sebuah Percakapan tentang Seseorang

"Kalo aku ketemu dia tanpa sengaja, apa mungkin ini takdir?" "Tergantung mindsetmu sih itu." "Tapi, kamu tahu kan rasanya? Waktu itu, senja itu, aku duduk di sini, dan dia di seberang disana. Tadinya aku sudah mau pulang meski yang kukerjakan disini belum benar-benar menghasilkan kemajuan. Dan, tiba-tiba dia datang. Rasanya seperti ada menyemangatiku untuk melanjutkan pekerjaanku di sini." " Yeah.. I know that feeling.." "Padahal waktu itu ada lelaki lain yang mungkin menurut sebagian besar manusia lebih menarik. Lelaki lain itu bahkan dengan sopan berbicara denganku, meski hanya berbasa-basi. Tapi, bahkan pesona lelaki lain tersebut tidak bisa mengalihkan perhatianku akan dia. Dia yang duduk di seberang sana."