Skip to main content

Menimbun Rindu

"Hai... "

"Hai... apakabar?"

"Baik. Kamu sendiri?"

"Baik juga, kok... Lama nggak ketemu nih kita."

"Iya nih..."

"Kamu aku hubungin kok enggak ngerespon?"

"Nggak papa kok.. memang sengaja."

"Kamu nggak pengen aku jadi bagian dari rutinitasmu, po?"

"Anggep aja gitu.. Aku memang nggak pengen terlalu sering ketemu atau denger kabar tentang kamu."

"Loh, kok gitu? Kamu tidak rindu??"

"Justru itu. Aku cuman pengen menimbun rindu."

"Kenapa harus ditimbun begitu? Tidakkah itu menyiksamu?"

"Tidak.. Aku sebisa mungkin tidak merasa tersiksa. Lagipula, ada bagusnya kan, kita jarang bertemu. Banyak hal yang bisa diceritakan apabila kita memang dipertemukan lagi nantinya. Aku juga cuma ingin merasakan sensasi yang muncul ketika rindu itu membeludak dan menyeruak. Ketika aku melihat kamu lagi. Ketika kita duduk bersama, hanya berdua diantara orang-orang asing, sehingga  hanya aku dan kamu yang bisa saling memahami apa yang tengah kita bicarakan. Bicara tentang rindu, hal-hal random, dan kenangan masa lalu."

"Baiklah kalau itu maumu. Aku akan membantumu. Aku pergi dulu."

"Mau kemana? Berapa lama?"

"Entahlah... Yang pasti, bila kita bertemu lagi nanti, akan ada banyak hal yang akan kuceritakan kepadamu. Tentang aku, dan tentang rindu."

Comments

Popular posts from this blog

Pertanyaan-pertanyaan Tentang (Kedai) Kopi Yang Coba Saya Jawab Sendiri

Beberapa juta tahun cahaya yang lalu, saya sempat menulis mengenai enam pertimbangan dalam memilih tempat untuk nongkrong. Belakangan saya sadar, sebagian besar tongkrongan saya adalah kedai kopi, atau paling tidak menyediakan kopi dalam daftar menunya. Saya sadar, belakangan kedai kopi di Jogja kian menjamur seperti tugas akhir yang saya biarkan menganggurketika menulis postingan ini.

Sebelumnya, saya ingin meluruskan bahwa saya bukanlah seorang coffee snob , pendekar, atau apapun itu yang paham fafifu soal perkopian. Hamba sekadar mahasiswa yang butuh ruang yang nyaman untuk bersosialisasi maupun berindividualisasi. Sebagai seorang yang bukan ekstrovert dan nggak introvert-introvert amat, kedai kopi adalah tempat yang sesuai bagi saya untuk sekadar mojok dewean, menulis sesuatu, atau iseng baca webtoon dan yutuban. 

Sejujurnya saya merasa postingan ini agak tolol. Kalau mau, bisa saja saya wawancara orang yang betul-betul paham soal kopi. Tapi, toh ini bukan portal berita. Bukan pu…

Sebelum Sambat Soal Harga Secangkir Kopimu, Perhatikan Hal-hal Ini

"Kamu kaya, ya? Ke koffisyop situ melulu. Kan mahal"
"Kamu kerja di S***sa, kan?"
"Ngakunya miskin, kok tiap hari ke koffisyop!"
Selamat pagi-siang-petang-senja-sore-malam-subuh, sanak saudara dan handai taulan sekalian! Belum lama ini saya iseng-iseng bikin voting di instagram yang kurang lebih begini bentuknya:
Saya mengakui bahwa saya termasuk orang yang cukup sering nongkrong di koffisyop, baik dewean atau bersama teman. Bahkan pernah dalam satu minggu penuh, saya nongkrong di salah satu koffisyop langganan (kecuali kalau pas tutup). Saya cukup sadar jika ada potensi orang-orang di seberang sana (yang hanya memantau kondisi saya via linimasa) cenderung menganggap saya: sok sugih, ngopi terus padahal kerjo wae durung, cuma menghabiskan duit dari orang tua,boros, dan fafifu lainnya. Ini asumsi saya, sih. Tapi saya yakin ada yang begini kok, meski cuma disimpan dalam hati :))
Secara pribadi, saya punya beberapa pertimbangan untuk rajin berkunjung ke kof…

Kedai IQ

Berkaitan dengan postingan saya yang ini, saya bermaksud membuat postingan lain. Ini postingan pertama saya terkait artefak hidup saya yang saya ambil secara acak dari tumpukan-tumpkan artefak lainnya. Karea kebetulan berupa struk tempat makan, mungkin postingan kali ini jatohnya malah kayak review tempat makan. Tapi, yasudahlah.. Suka-suka saya sajalah ya~


Jadi, ceritanya waktu (10/1) itu saya pulang natalan kmk fakultas. Sebenarnya sore itu saya juga diajakin dolan ke Edu park. Cuman yo waktunya nanggung, soalnya natalannya juga mulai sore-sore gitu. Karena dapat makan, Sebagai anak beriman, saya milih natalan dong. Karena pulangnya kurang malem, terus sebagian yang ikut natalan memilih untuk melanjutkan dengan karaokean. Saya sih ngikut, masih sore ini. Nah, habis karaokean, saya sama Adisti (teman saya yang ikutan karaokean jugak) ngerasa males aja kalo langsung pulang. Jadi, kami memutuskan untuk mampir nongkrong sambil ngemil. Karena saat itu sudah hampir tengah malam, kami semp…