Skip to main content

Posts

Showing posts with the label cerita

Konferensi Pencerita

Alerta, seorang perempuan muda yang selalu mengenakan lipstick merah tua, baru saja akan pindah ke sebuah kota kecil demi memulai hidup baru. Kota kecil nan teduh dan tenang, di mana orang-orang tak pernah mengeluh dengan teramat riuh. Kota kecil dengan sebuah danau jernih yang membentang dan membuat suasana kian teduh, di mana ikan-ikan berkecipak tanpa menimbulkan kesan gaduh. Alerta memilih hijrah dari sebuah kota metropolutan  bukan tanpa alasan. Di satu sisi, Alerta tak keberatan atau bahkan menyukai karakter manusia-manusia individual yang berdiam di kota metropolutan itu tadi. Manusia-manusia yang dengan bebasnya mengasapi minimarket 24 jam di tepi-tepi jalanan beraspal. Manusia-manusia yang tak terlalu ambil pusing dengan apa yang akan mereka makan, namun betul-betul mempertimbangkan pakaian macam apa yang akan mereka kenakan. Sebagai bagian dari segelintir umat manusia yang tak suka mencampuri urusan orang lain, kondisi kota metropolutan terbilang relatif ideal ...

Mengenggam Pasir

Menjaga  manusia tak ubahnya menggengam pasir. Berilah mereka  ruang, sebab jikalau kamu menggengam mereka terlalu erat, kamu sekaligus membiarkan  makin banyak pasir terlepas mengalir lantas tertiup angin dan kembali membaur bersama butir-butir pasir lain yang berceceran hingga tak lagi bisa kamu kenali.  *** Siang ini begitu terik dan membakar. Matahari kelewat cerah sehingga kita berdua harus sama-sama memincingkan mata untuk dapat saling melihat wajah masing-masing. Di tepi pantai berpasir putih  ini hanya ada kita berdua. Duduk di tepian batang pohon kelapa sembari memandang ke arah laut lepas yang jernih, namun ternoda beraneka sampah-sampah plastik yang mengambang. Kita berdua membakar diri dalam panasnya mentari yang tengah tepat berada di atas kepala. Tanpa topi, tanpa penutup mata. Di jemari kita masing-masing telah tersulut sebatang rokok. Kamu yang duduk di sebelah kanan menyematkan rokokmu di jemari kanan, sementara rokokku terselip di jemari ki...

Hari Selain Minggu

Aku selalu mengamati Ben setiap hari Minggu pagi. Minggu pagi yang benar-benar pagi, ketika aku menjalani  rutinitas mingguan bersama ibu. Rutinitas mingguan yang tentu juga menjadi rutinitas bagimu dan bagi segenap manusia yang menyempatkan waktu untuk bangun pagi-pagi benar, ketika mayoritas manusia-manusia lain sudah kembali lelap selepas menjalankan ibadah pagi harian dua raka'at mereka. Sejujurnya, aku selalu mempertanyakan alasan Ben, duduk sendiri dalam bangunan yang sama pada hari Minggu pagi. Iya, aku menyimpulkan Ben pergi sendiri dan pulang sendiri, meski dia selalu duduk bersisian dengan orang lain. Orang-orang yang duduk di sisinya selalu berbeda. Aku melihat Ben membuat jarak dengan mereka, meski lelaki berlesung pipit itu selalu tersenyum ketika menjabat hangat tangan-tangan mereka; entah lelaki, entah perempuan. Aku selalu menduga bahwa Ben tengah menjalani hubungan jarak jauh dengan perempuan. Meski tidak menutup kemungkinan apabila ternyata dia menjalin hu...

Cerita di balik Penciptaan Sebuah Cerita

 "Berangkat dulu ya, bu," ujar Uli pada ibunya sembari setengah berlari terburu-buru. Di tangan kanan Uli terdapat lima helai kertas yang sudah di stapler jadi satu. Kelima helai kertas tersebut kemudian diletakkan di sebuah meja, tepat di sisi kiri tumpukan kertas lain yang lebih tinggi. "Jangan pulang malem-malem, ya dek. Eling lho... ," ibu menyahut. Tak berapa lama terdengar suara saklar lampu dipadamkan, pintu dikunci, dan motor yang menderu. Suasana kamar Uli remang dengan sedikit cahaya yang merembes melalui ventilasi udara. Lima menit berlalu. Sunyi. Hingga kemudian dua tumpukan kertas di meja kamar mulai berbicara. "Halo. Kamu tulisan mbak Uli yang baru, ya?," ujar tumpukan tebal kertas berisikan jurnal bahan kuliah komunikasi kontemporer berikut review-reviewnya.  "Iya.  Aku cerita yang di tulis sama mbak Uli. Kamu juga, kah?," jawab lima helai kertas yang sudah di stapler tadi.  "Hmm... sebenarnya cuma sebagian ya...

I dare you, Dear!!

sebelumnya ... *** "Darren!!" Alerta menegur Darren yang tampak sedang melamun. Siang itu terik dan Alerta memang sengaja mengajak Darren untuk menemaninya nongkrong.Alerta mencoba melupakan masalahnya dengan Darren kemarin malam, terlebih setelah Darren mendapat luka lebam di pelipisnya karena dihantam oleh Hans ketika Darren menemui Alerta. Alerta merasa bersalah karena memang pukulan tersebut merupakan bentuk pembelaan Hans sebagai sepupunya. Lagipula, Darren sudah minta maaf pada Alerta dan mengaku sadar akan kesalahannya. Bagi Alerta, itu sudah cukup. Maka dari itu, sebagai ungkapan rasa bersalah, Alerta mentraktir Darren makan siang. " Gimana  luka kamu? Masih sakit?" tanya Alerta. Jemarinya menelusur perlahan memeriksa lebam di pelipis Darren. "Dikit.. " Darren  nyengir.  Jemarinya meraih sekotak rokok di meja dan mengambil sebatang kemudian mencari-cari pemantik di saku celananya. Alerta pun dengan segera menyodorkan pemantik mungil warna...

Mencintai Ala Efek Rumah Kaca

  Aku masih duduk sendiri, menunggumu di kedai kopi, menghadap ke arah pintu masuk .Kopi tubruk Bajawa yang sedari tadi kupesan sudah tandas, tinggal ampas. Gula dalam sachet di samping cangkir kopi tak kusentuh sama sekali.  Kedua telingaku masih tersumpal  headset, membuatku terlihat tolol di kedai yang full music ini. Lagu-lagu erk masih memenuhi kepalaku. Lagu dari grup musik kesukaanmu yang tempo hari kamu usulkan untuk kujejalkan dalam daftar putarku. Aku menurut sajalah, toh mungkin lagu-lagu itu membantuku mengenalmu lebih dalam. ... kita berdua,tak pernah ucapkan maaf, tapi saling mengerti~... Tepat ketika lirik tersebut mengalun, kamu tiba dengan sepeda motor tua. Kamu langsung masuk, menghampiriku tanpa kata maaf. Mungkin lagu-lagu erk  sudah benar-benar kamu jadikan sebagai kitab hidupmu, pikirku. Kamu duduk di hadapanku, tersenyum seperti biasa sembari bertanya, "Kamu pesan apa ?" "Tubruk, Bajawa." "Enak? Boleh nyobain? " "Uda...

Nelayan Pemuja Rembulan

"Belum tidur kamu, nak?" tangan bunda membelai kepala Alerta, putrinya yang tengah berbaring di ranjang namun belum memejamkan mata. "Belum ngantuk, nda... Ceritain sesuatu dong buat bahan mimpi nanti." jawab Alerta "Kamu mau cerita tentang apa? Dongeng tentang putri dan ksatria??" sang bunda masih membelai lembut kepala putrinya. "Enggak ah.. Bosen.. Ceritanya gitu-gitu aja. Yang lain dong, nda.." pinta Alerta "Yaudah. Bunda cerita soal nelayan aja, ya. Nelayan pemuja rembulan." *** Dahulu kala, di sebuah pulau terpencil berpasir hiduplah seorang nelayan. Nelayan tersebut hidup seorang diri karena memang pulau yang dia tinggali terlalu kecil untuk dijadikan tempat tinggal bersama. Sesekali memang ada beberapa orang yang mampir karena tersesat ataupun kelelahan.Namun mereka tidak pernah tinggal terlalu lama karena memang tidak ada banyak hal yang bisa mereka dapat dari pulau terpencil berpasir tersebut. Mereka hanya melihat...

Menimbun Rindu

"Hai... " "Hai... apakabar?" "Baik. Kamu sendiri?" "Baik juga, kok... Lama nggak ketemu nih kita." "Iya nih..." "Kamu aku hubungin kok enggak ngerespon?" "Nggak papa kok.. memang sengaja." "Kamu nggak pengen aku jadi bagian dari rutinitasmu, po? " "Anggep aja gitu.. Aku memang nggak pengen terlalu sering ketemu atau denger kabar tentang kamu." "Loh, kok gitu? Kamu tidak rindu??" "Justru itu. Aku cuman pengen menimbun rindu." "Kenapa harus ditimbun begitu? Tidakkah itu menyiksamu?" "Tidak.. Aku sebisa mungkin tidak merasa tersiksa. Lagipula, ada bagusnya kan , kita jarang bertemu. Banyak hal yang bisa diceritakan apabila kita memang dipertemukan lagi nantinya. Aku juga cuma ingin merasakan sensasi yang muncul ketika rindu itu membeludak dan menyeruak. Ketika aku melihat kamu lagi. Ketika kita duduk bersama, hanya berdua diantara orang-orang...

Racun Serangga (part 2)

cerita sebelumnya... Suasana rumah sakit cukup ramai, meski keramaian ini tidak bisa menutupi aura dingin yang menyeruak. Semua orang tahu bahwa rumah sakit bukan merupakan tempat yang nyaman bagi banyak orang, termasuk bagiku sendiri. Pekerjaanku memang menuntutku untuk sering mengunjungi rumah sakit demi penyelidikan atas kasus yang kutangani. Meski begitu, aku tidak pernah merasa terbiasa apalagi nyaman dengan tempat semacam ini. Aku melangkah, mencari sosok Adrianna di deretan orang-orang yang tengah duduk di bangku-bangku panjang sambil mengenggam dua papercup  berisi kopi manis hangat. Samar-samar, aku bisa membayangkan wajahnya yang terlihat dalam foto-foto di tempat kejadian tadi. Aku melihatnya. Duduk sendirian dengan perasaan yang tidak dapat kugambarkan dengan tepat. Raut wajahnya memancarkan kesedihan. Dia tampak terguncang. Kusodorkan kopi yang kubawa kepadanya sambil memperkenalkan diriku. "Adrianna? Perkenalkan, aku Valerie. Panggil saja Val." kataku. Ke...

Lelaki yang tidak dinamis

sebelumnya ... Vanilla latte di cangkir  Alerta yang masih setengah penuh menjadi semakin dingin, menyamakan suhu dengan udara di luar ruangan. Sebenarnya malam ini cukup indah. Bulan terlihat begitu jelas , bulat penuh, dan berbinar. Sayang, perasaan Alerta tidak begitu baik. Segalanya tidak seindah yang dilihat orang-orang kebanyakan. Orang-orang yang antusias memandang bulan bulat penuh nan berbinar sembari mengabadikannya dengan jepretan kamera atau dengan memori di kepala. Ponsel Alerta bergetar sebentar, tanda ada pesan masuk . Dilihatnya sekilas.Darren. Lelaki yang baru saja ia bicarakan dengan Hans ternyata mengirim pesan singkat. Alerta tampak malas menanggapinya dan menunjukkan pesan singkat yang isinya hanya basa-basi itu pada Hans. " Nih.. Panjang umur. Barusan diomongin, udah sms aja." kata alerta sambil menyodorkan ponselnya. Hans menerimanya, mencermati pesan singkat dari Darren ke Alerta tanpa berkomentar. Lagipula komentarnya tidak akan mempengaruhi k...

Racun Serangga (part1)

Sore ini sedikit berawan ketika aku tengah menikmati waktu istirahatku yang singkat dengan menghisap sebatang rokok. Jadwalku cukup padat akhir-akhir ini karena terlalu banyak kasus yang harus aku tangani. Aku harus berhadapan dengan kasus kriminal yang tidak pernah ada habisnya. Sebagian besar kasus tersebut berakhir dengan korban jiwa. Entah pencurian, penculikan, atau apa, pembunuhan dan kematian sepertinya menjadi tujuan akhirnya. Entah pembunuhan tersebut sengaja atau tidak disengaja, direncana atau tidak direncana. Intinya, hampir sebagian besar kasus yang kutangani berkaitan dengan orang mati. Ponselku berdering. Sebuah panggilan dari nomer rekan kerjaku. Sepertinya ada pekerjaan yang kembali harus kuurus.  "Halo.. ada kasus apa lagi kali ini?" tanyaku "Ada orang mati. Lagi-lagi..." kata suara di seberang telepon. Seorang rekan kerja bernama Ben. "Pembunuhan? terkait penculikan atau pencurian?" tanyaku lagi "Sepertinya bukan....

Badak

Di sebuah hutan rimba rimbun berembun, hiduplah sekawanan badak. Ada badak bercula satu dan ada badak bercula tiga. Meskipun memiliki jumlah cula yang berbeda, mereka tetap hidup aman, nyaman, tenteram, damai, dan bahagia. Mereka hidup berdampingan dan saling membantu karena selain mengenai jumlah cula,  secara fisik mereka memang serupa. Mata, bibir, telinga, serta  kaki mereka  letaknya sama. Jumlahnya juga sama. Suatu hari, sekumpulan badak jantan muda sedang mengobrol di burjonan. Mereka terdiri dari badak bercula satu dan badak bercula tiga. Seperti badak-badak muda pada umumnya, mereka membicarakan mengenai badak betina karena beberapa dari para badak jantan muda tersebut belum punya pasangan. Padahal beberapa tahun lagi mereka akan memasuki usia perkawinan. Badak jantan muda yang sudah punya pasangan kemudian   memutuskan memperkenalkan badak-badak betina muda teman pasangan mereka.  Singkat cerita, sekumpulan badak jantan muda dipertemukan denga...

Bekas Luka

Hari sudah petang ketika manusia-manusia nokturnal mulai keluar, menjalani rutinitas manusia normal dengan waktu yang berkebalikan. Mereka bukan vampir ataupun drakula. Mereka hanya terlanjur terjebak dalam rutinitas yang sama; tidur terlalu larut atau bahkan terlalu pagi sehingga menjadi terlalu lelah untuk bangun dan memilih untuk melanjutkan tidur hingga senja lewat. Lagipula memang pekerjaan mereka banyak dilakukan di malam hari dan otak mereka terlanjur terprogram untuk digunakan secara maksimal tanpa sinar matahari.  Sebenarnya, malam bukan hanya milik manusia nokturnal. Beberapa manusia dengan waktu tidur normal juga sering meluangkan waktu ketika malam menjelang, bahkan hingga pagi datang, atas nama rasa bosan akan rutinitas atau karena kebetulan ada urusan. Alerta misalnya, sengaja keluar malam ini, memenuhi janji dengan seorang yang kebetulan hanya bisa ditemui pada waktu malam, Burhan, atau biasa dipanggil Hans, sepupu Alerta sekaligus tempat paling tepat baginya untu...

Rahasia semu dalam kabut

Seharian ini aku tidak melihat Arina, teman kuliahku yang juga tinggal serumah denganku. Catatan kuliahku dia pinjam, padahal aku sedang butuh untuk mengerjakan tugasku secepatnya. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan mengambilnya sendiri.  Mataku menelusur tumpukan buku di meja kamar Arina, berharap bisa menemukan buku catatan warna biru muda milikku. Tanpa butuh waktu lama aku menemukannya, tertindih buku lain dengan warna magenta. Sepertinya semacam buku cerita karena terlihat ada gambar tokoh dongeng di dalamnya. Dua orang wanita dengan wajah serupa, bahkan sama persis saling berhadapan dengan sebuah kotak kaca berisi permata di dalamnya. Aku tertarik untuk membaca isinya yang ternyata mirip buku harian dengan tanggal yang tertulis pada sudut kanan atas tiap-tiap halamannya. Mirip, meski aku yakin ini bukan buku harian karena isinya terlalu konyol untuk dianggap sebagai realita.  Ada sebuah kisah mengenai kotak kaca penyimpan rahasia.  Konon kotak ...

Cerita sedang

Aku sedang menuliskan sebuah cerita. Sebut saja cerita sedang. Cerita ini bukan mengenai sesuatu yang sedang aku lakukan, karena seperti yang aku bilang sebelumnya, aku sedang menulis cerita. Oke, mungkin memang tulisanku terdengar seakan aku menceritakan bahwa aku sedang menuliskan sebuah cerita tentang seseorang yang tengah menulis sebuah cerita dan seterusnya. Tapi, aku memang menuliskan cerita sedang. Cerita yang terlalu panjang untuk diceritakan dalam waktu singkat, namun terlalu pendek untuk disebut cerita panjang. Tentu bukan cerita dalam tulisan ini yang aku maksudkan. 

Cerita Seorang Wanita dalam Pertandingan Khusus Wanita

Kali ini saya ingin menceritakan tentang  final kompetisi basket khusus perempuan malam minggu kemarin di gor Among Rogo.  Kebetulan dua tim yang maju ke final pada cabang olahraga basket sama-sama mewakili sekolah menengah atas atau SMA. Iya, saya tidak sedang mendukung fakultas, jurusan, maupun universitas saya. Saya juga tidak mendukung tim tingkat nasional karena saya memang bukan benar-benar  penggemar olahraga basket. Saya hanya datang atas nama keseloan dengan niat awal supporteran, mendukung mantan SMA saya, meski pada akhirnya saya lebih banyak menonton jalannya pertandingan daripada memberikan sorakan. Lagipula saya mendapatkan akses masuk secara cuma-cuma. Cerita ini bukan tentang  jalannya pertandingan berikut hiruk-pikuk dukungan yang diberikan kepada para pemain. Ini tentang seorang perempuan. Waktu itu pertandingan belum  lama berlangsung. Para supporter di tribun dekat saya masih ribut, riuh bersiap memberikan dukungan. Kebetulan tribu...

Silau

Diluar hujan masih mengguyur dengan teratur. Kilat menyambar, segalanya tampak terang sesaat. Petir menggelegar, memecah suara rintik hujan yang kian deras. Hari sudah petang, dan Abigail sedang berada di dalam rumah kecilnya seorang diri. Segalanya hanya tampak remang-remang. Hanya ada sebuah lampu meja dengan warna krem yang menjadi sumber penerangan. Di luar suara hujan masih terdengat teratur dan berirama. Tidak makin cepat, atau makin lambat. Kilat kembali menyambar, seketika segalanya  gelap. Gelap segelap-gelapnya, seperti saat kita sedang tidur dan menutup mata rapat-rapat karena  lampu meja yang tadinya menyala juga ikut padam bersama dengan kilatan yang baru saja lewat. Lampu-lampu indikator pada barang-barang elektronik lain juga ikut padam. Abigail meraba dalam kegelapan yang nyata. Tangannya menelusur ranjang dan perabotan, mencari telepon selularnya yang paling tidak bisa menjadi sumber cahaya sementara. Setelah ketemu, barulah Abby ingat pada sebatang...

Jempol Kaki Kiri

Entah ada apa denganku pagi ini. Sepertinya aku sedang kesal, atau memang segala sesuatu disekelilingku memang seketika jadi mengesalkan. Tadi ketika aku mengeluarkan motorku, kurasakan ada rasa ngilu di jempol kaki kiriku. Kuarahkan pandanganku kearah jempol kaki kiriku tadi. Kulihat kuku jarinya  memutih. Sekitar tiga perempat bagiannya tidak menempel lagi pada tempatnya. Warnanya jadi putih pucat, seakan  bukan merupakan bagian dari kehidupan.  Darah merah segar mengucur dari  bagian sisinya. Kuku jari memiliki tiga sisi yang melekat pada daging dan kulit. Dan sekarang jempol kaki kiriku  pada dua sisinya yang saling berhadapan sudah tidak lagi menancap kuku jari. Hanya tinggal satu sisi yang berhadapan dengan sisi satunya yang bebaslah yang masih menempel, terselubungi daging dan kulit. Aku sedikit panik. Cepat-cepat kukembalikan kuku jempol kakiku ke posisinya semula. Kutekan sedikit. Darah kembali mengucur dari sisi kiri dan kanan jempol kaki kirik...