Skip to main content

Love, Hate, and Need : Relasi Saya dengan Media Sosial

Don't hate the media. Become the media! (J. Biafra) 

Kutipan diatas saya comot dari salahsatu bagian tembok yang terpampang di kantor jurusan saya. Maafkan jikalau tidak saya cantumkan gambarnya secara langsung karena kutipan ini memang nggak se-hits kutipan "Crafting well informed society" yang sering banget dipake buat background foto yang pada kelar pendadaran, Ehehehe. Yha, kantor jurusan saya belakangan dipindah ke lantai lima, sih. Tapi sepertinya kutipan-kutipan yang ditulis dengan warna putih dan latar biru bermotif kotak-kotak ini masih ada. Cuman saya juga nggak tahu dipindah di sebelah mana tepatnya.

Baiklah. Kembali ke topik yang berkaitan dengan judul tulisan ini. Tanpa bawa-bawa embel-embel sebagai anak konsentrasi media, saya  adalah umat manusia yang terkadang atau sering turut serta dalam arus utama. Maksudnya, saya juga bagian dari para manusia yang memiliki beragam akun media sosial yang tersemat dalam gawai berbasis android di genggaman tangan saya. Meski bahkan sebelum punya ponsel pintar macam si Sony ini saya memang sudah memiliki akun di media sosial yang hingga kini masih tak sepi peminat macam facebook dan twitter. Kalau friendster? Saya sih nggak ada. Jaman friendster dulu di sekitaran rumah saya belum rame warnet. Ehehehe.

Sebagai pemilik gawai yang mendukung kemudahan dalam mengakses media sosial yang makin hari makin macem-macem aja ini, saya tak hanya memiliki akun kedua media sosial yang tadi saya sebutkan. Kepemilikan si Sony sebagai gawai yang selalu ada di genggaman tangan saya membuat saya turut serta meramaikan medsos-medsos lain seperti path dan instagram. 


Rasah dikepo~



Lha, gimana. Temen-temen saya juga pada pake. Kan bisa jadi bahan obrolan di dunia nyata. Soalnya jaman belum pegang si Sony, saya sempet ngerasa teralienasi. Kerasa banget waktu kelas saya punya grup Line sehingga grup facebook kelas  ditinggalkan. Padahal waktu itu Line belum memiliki fitur khusus untuk berbagi data-data terkait perkuliahan yang biasanya berupa pdf, word, maupun ppt.  Rasanya saya kayak nggak paham apa-apaan gitu. Wassyukurinlah, sekarang saya udah nggak jadi alien lagi dalam kelompok-kelompok pergaulan yang mempergunakan gawai pintar sebagai media komunikasi dan penyebarluasan informasi utama. Meski saya juga nggak selalu benar-benar menyimak apa saja yang ada si grup-grup yang ada saya-nya.

Singkat cerita, selama sekian tahun menjadi pengguna media sosial, saya secara sepihak menyimpulkan hubungan saya dengan media-media sosial yang hingga kini masih saya pergunakan. Secara umum aja, sih. Sesuai janji pada judul, saya rasa ada tiga kata benda yang mewakili relasi saya ini.


  1. Love. Cinta.                                                                                                                                     Kalau nggak cinta, mana mungkin saya bertahan menggunakan media-media sosial yang tadi saya sebutkan. Memang, karena banyaknya, saya jadi nggak setia sama satu platform media sosial saja. Tapi, ya karena ngikutin perkembangan jaman yang katanya edan itu tadi. Banyak hal yang bikin saya cinta sama media sosial. Media sosial bisa jadi menunjukkan eksistensi saya sebagai umat manusia yang turut hidup di muka bumi ini. Yha, meskipun saya juga nggak bener-bener ngikutin dan bikin segala macam medsos yang ada. Misal, saya nggak punya snapchat. Kenapa? Sederhana aja sih alesannya. Gawai saya sudah kewalahan menampung beragam aplikasi yang saya sematkan. Kasian si Sony, nanti jebats. Intinya, yang bikin saya cinta sama media sosial adalah saya jadi bisa lebih mudah mengakses informasi. Coba deh amatin perilaku pengguna gawai masa kini yang sepengamatan saya lebih sering ngomongin berita-berita yang dibagikan melalui linimasa medsos. Bahkan akun-akun informasi maupun hiburan macam buzzfeed pun bikin akun Line official. Sementara 9gag punya aplikasi berbasis mobile yang kemudian saya uninstall gegara mau donlot gojek. Eits, saya nggak dibayar sama buzzfeed atau 9gag, kok. Merekanya emang udah hits.   
  2. Hate. Benci.                                                                                                                                       Yang namanya relasi cinta kan biasanya dibumbuin pakek benci. Biar nggak monoton a.k.a ngebosenin gitu, katanya. Nah, demikian halnya dengan relasi antara saya dengan medsos. Kenapa benci? Soalnya nggak sekali-duakali saya digangguin orang via medsos. Yang namanya dunia maya, orang mah bebas mau ngapain aja. Termasuk melakukan tindakan-tindakan anying bin annoying. Salah saya juga sih, pernah mengalami masa-masa labil ketika sembarangan konfirmasi pertemanan di facebook misalnya. Tindakan anying bin annoying lainnya adalah memasukkan akun medsos saya ke sebuah grup maharandom yang embuh isinya apa dan siapa. Tinggal left, sih, kalo kurang berkenan. Tapi, sering banget masalahnya.  Wassyukurinlah, medsos masa kini sudah diupgrade dengan menyematkan fitur-fitur anti-tindakan-tindakan anying bin annoying macam ngajakin chatting atau masukin ke grup sembarangan. Tinggal block atau unfriend, kelar urusan. Jujur, ya. Saya risih. Saya mendingan beneran akrab di dunia nyata yang katanya fana ini dibanding chit-chat nggak jelas di socmed. Soalnya saya nggak bukak onlensyop. Xixixixi. Hal lain yang bikin saya jadi benci adalah, saya juga berasa udah addicted sama medsos, meski nyatanya saya masih hidup-hidup saja waktu KKN kemaren samasekali nggak bisa mengakses medsos karena ketiadaan jaringan. Saya tipe manusia yang gampang kedistract sama si Sony. Apalagi kalau ada dukungan koneksi Wi-Fi. Mungkin nggak cuman saya, sih, yang ngerasain hal kayak gini. Niatnya mau nongkrong-nongkrong produktif, endingnya... Mah ngapain~
  3. Need. Butuh                                                                                                                                      Nah, ini poin yang paling masup dan berkaitan sama quote di atas tadi. Butuh. Saya butuhhh baget sama yang namanya media sosial. Media sosial bisa jadi alternatif ketika saya lagi nggak ada pulsa tapi ada urusan penting yang kudu banget sesegera mungkin diomongin. Tinggal cari Wi-Fi, beres deh. Apalagi sekarang banyak tempat yang menyediakan Wi-Fi gratisan. Rumah saya pun untungnya juga pasang Wi-Fi. Ehehehe. Jadi hemat paketan. Bahkan sejauh pengamatan saya, para pengenggam gawai kekinian cenderung lebih mudah dihubungi melalui media sosial daripada via pesan singkat alias sms. Yha, mau gimana. Semesta mendukung gitu sih. Selain sebagai media alternatif untuk menghubungi orang-orang yang memang ada urusan atau sekadar silaturahmi, saya juga butuh medsos untuk mengingat-ingat orang-orang yang baru saja saya kenal. Jujur, saya adalah tipe orang yang sering ingat nama lupa muka, atau sebaliknya, ingat muka tapi lupa nama. Jadi, saya harap jangan baper , yha kalau saya kurang bisa mengingat orang yang kenalan secara langsung di dunia nyata. Sumpah, saya juga bingung, kenapa saya sering kayak gini. Baru sekian menit kenalan secara formal, terus lupa nama orang. Begitu ketemu di lain kesempatan, cuman liat-liatan. Bingung, lupa siapa namanya. Jadi, yha keberadaan medsos mempermudah saya untuk sekadar menitipkan ingatan. Maklum lah, manusia jaman sekarang kan memang cenderung suka menitipkan memori-memori mereka pada gawai yang mereka punya. Meski nggak semua, sih. Saya pribadi lebih suka mengenal orang di dunia nyata ketimbang sok akrab di dunia maya. Ehehehe.

Terlepas dari ketiga kata sifat tadi, saya meyakini bahwasanya media-media sosial yang ada diciptakan sebagaimana mestinya, sesuai platform masing-masing. Meski yang saya amati belakangan ada kecenderungan fitur-fitur yang tersemat pada medsos menuju pada keserupaan. *keserupaan~ dikeplak sama yang bikin KBBI njukan*  Misal, line yang sekarang memiliki fitur Linekeep untuk menyimpan foto, teks,  maupun dokumen-dokumen lain. Maksudnya bagus, sih, biar makin berfaedah buat kemaslahatan umat. Intinya, pada era di mana medsos kian tak terpisahkan dari genggaman tangan akibat keberadaan gawai-gawai kekinian, kita bebas untuk memanfaatkan medsos-medsos tersebut sesuai kebutuhan. 
Sekian, another postingan selo subjektif bernada tsurhat ini. Mudah-mudahan bermanfaat, paling enggak buat diri saya sendiri. Namanya juga tsurhat. Heuheuheu...
Adios~




Comments

Popular posts from this blog

Pertanyaan-pertanyaan Tentang (Kedai) Kopi Yang Coba Saya Jawab Sendiri

Beberapa juta tahun cahaya yang lalu, saya sempat menulis mengenai enam pertimbangan dalam memilih tempat untuk nongkrong. Belakangan saya sadar, sebagian besar tongkrongan saya adalah kedai kopi, atau paling tidak menyediakan kopi dalam daftar menunya. Saya sadar, belakangan kedai kopi di Jogja kian menjamur seperti tugas akhir yang saya biarkan menganggurketika menulis postingan ini.

Sebelumnya, saya ingin meluruskan bahwa saya bukanlah seorang coffee snob , pendekar, atau apapun itu yang paham fafifu soal perkopian. Hamba sekadar mahasiswa yang butuh ruang yang nyaman untuk bersosialisasi maupun berindividualisasi. Sebagai seorang yang bukan ekstrovert dan nggak introvert-introvert amat, kedai kopi adalah tempat yang sesuai bagi saya untuk sekadar mojok dewean, menulis sesuatu, atau iseng baca webtoon dan yutuban. 

Sejujurnya saya merasa postingan ini agak tolol. Kalau mau, bisa saja saya wawancara orang yang betul-betul paham soal kopi. Tapi, toh ini bukan portal berita. Bukan pu…

Sebelum Sambat Soal Harga Secangkir Kopimu, Perhatikan Hal-hal Ini

"Kamu kaya, ya? Ke koffisyop situ melulu. Kan mahal"
"Kamu kerja di S***sa, kan?"
"Ngakunya miskin, kok tiap hari ke koffisyop!"
Selamat pagi-siang-petang-senja-sore-malam-subuh, sanak saudara dan handai taulan sekalian! Belum lama ini saya iseng-iseng bikin voting di instagram yang kurang lebih begini bentuknya:
Saya mengakui bahwa saya termasuk orang yang cukup sering nongkrong di koffisyop, baik dewean atau bersama teman. Bahkan pernah dalam satu minggu penuh, saya nongkrong di salah satu koffisyop langganan (kecuali kalau pas tutup). Saya cukup sadar jika ada potensi orang-orang di seberang sana (yang hanya memantau kondisi saya via linimasa) cenderung menganggap saya: sok sugih, ngopi terus padahal kerjo wae durung, cuma menghabiskan duit dari orang tua,boros, dan fafifu lainnya. Ini asumsi saya, sih. Tapi saya yakin ada yang begini kok, meski cuma disimpan dalam hati :))
Secara pribadi, saya punya beberapa pertimbangan untuk rajin berkunjung ke kof…

Kedai IQ

Berkaitan dengan postingan saya yang ini, saya bermaksud membuat postingan lain. Ini postingan pertama saya terkait artefak hidup saya yang saya ambil secara acak dari tumpukan-tumpkan artefak lainnya. Karea kebetulan berupa struk tempat makan, mungkin postingan kali ini jatohnya malah kayak review tempat makan. Tapi, yasudahlah.. Suka-suka saya sajalah ya~


Jadi, ceritanya waktu (10/1) itu saya pulang natalan kmk fakultas. Sebenarnya sore itu saya juga diajakin dolan ke Edu park. Cuman yo waktunya nanggung, soalnya natalannya juga mulai sore-sore gitu. Karena dapat makan, Sebagai anak beriman, saya milih natalan dong. Karena pulangnya kurang malem, terus sebagian yang ikut natalan memilih untuk melanjutkan dengan karaokean. Saya sih ngikut, masih sore ini. Nah, habis karaokean, saya sama Adisti (teman saya yang ikutan karaokean jugak) ngerasa males aja kalo langsung pulang. Jadi, kami memutuskan untuk mampir nongkrong sambil ngemil. Karena saat itu sudah hampir tengah malam, kami semp…