Skip to main content

Posts

Menyadari Segmentasi

Sebagai mahasisa komunikesyen, terkadang saya merasa hina karena merasa belum punya pencapaian apa-apa di bidang media. Punya blog pun isinya unfaedah begini: random, ambyar, acakadut, dan jarang update . Kadang kala pengen riviu-riviu cantique macam temen saya ini . Tapi, apa daya. Saya mageran buat ngurusin blog sendiri. Kadang sempet iseng ikutan ngirim tulisan ke mana kek, gitu. Tapi, yha namanya juga lyfe. Kadang memang saya ngerjainnya nggak total dan baru kirim mepet dateline , atau malah kelewat sembarangan bikin tulisan yang mlipir dari tema. Alhasil, saya nggak kecewa-kecewa amat ketika memang tulisan saya nggak tembus. Lha, wong jarang ngirim~ Bicara soal tulisan yang nggak tembus dimuat, sebagai  mahasisa yang pernah kesasar ikutan UKM yurnalistique, sesekali saya pernah dengar ada dekadek yang sambat akibat tulisannya ditolak alias dianggap nggak layak muat lantaran kurang "receh". Diam-diam saya menghujat dalam hati ," Lha rumangsamu kowe nulis ng...

Pertanyaan-pertanyaan Tentang (Kedai) Kopi Yang Coba Saya Jawab Sendiri

Smile coffee and tea Beberapa juta tahun cahaya yang lalu, saya sempat menulis mengenai enam pertimbangan dalam memilih tempat untuk nongkrong . Belakangan saya sadar, sebagian besar tongkrongan saya adalah kedai kopi, atau paling tidak menyediakan kopi dalam daftar menunya. Saya sadar, belakangan kedai kopi di Jogja kian menjamur seperti tugas akhir yang saya biarkan menganggur ketika menulis postingan ini. Sebelumnya, saya ingin meluruskan bahwa saya bukanlah seorang coffee snob  , pendekar, atau apapun itu yang paham fafifu soal perkopian. Hamba sekadar mahasiswa yang butuh ruang yang nyaman untuk bersosialisasi maupun berindividualisasi. Sebagai seorang yang bukan ekstrovert dan nggak introvert-introvert amat, kedai kopi adalah tempat yang sesuai bagi saya untuk sekadar mojok dewean, menulis sesuatu, atau iseng baca webtoon dan yutuban.  Sejujurnya saya merasa postingan ini agak tolol. Kalau mau, bisa saja saya wawancara orang yang betul-betul paham soal kopi. ...

Cita-cita Alerta

( sebelumnya ) Waktu ibadah telah usai ditandai kumandang lagu penutup. Bunda melangkah ringan  menuju ruangan tempat Alerta mengikuti sekolah Minggu. Pintu ruangan dan jendela-jendela berukuran besar sengaja dibiarkan terbuka agar udara pagi nan segar dapat masuk dengan leluasa. Bunda melongok melalui jendela. Di dalam ruangan berkarpet merah, tampak anak-anak masih berdoa dengan mata terpejam, kecuali Alerta. Sepasang matanya yang bulat tampak menyapu seisi ruangan, mengamati wajah-wajah khusyuk menunduk dengan mulut komat-kamit. Alerta sempat melihat Bunda sepintas, yang lantas melambai sembari menempelkan jari telunjuk kanan di depan bibir. “Sshhh... Berdoa dulu,” desis Bunda dengan gerak bibir yang jelas namun nyaris tanpa suara. Pengucapan ‘amin’ yang serentak menandai akhir dari sekolah Minggu kali ini. Anak-anak tampak tak sabar untuk lekas keluar menghambur pada orangtua masing-masing untuk meminta recehan dan membeli makanan ringan. Sebagian anak bahkan l...

Sekolah Kok Minggu Part 2: Pencerita Selain Bunda

(sebelumnya) "Alerta sudah pernah ikut sekolah Minggu?" tanya si biarawati manakala kaki mereka telah menginjak karpet merah. Pertanyaannya lantas disambut gelengan kepala Alerta. "Belum sus. Tapi... ini sekolah? Hari Minggu katanya untuk istirahat?" tanya Alerta polos. "Alerta di sekolah biasanya belajar apa?" "Macam-macam. Menulis, membaca, berhitung. Aku sudah lancar, kok. Soalnya Bunda juga ngajarin kalau di rumah." ungkap Alerta dengan bangga. Ia memang dikenal mahir ketiga hal tadi: menulis, membaca, dan berhitung. Manakala guru di sekolahnya mendikte soal ulangan, Alerta dapat dengan tangkas menyalinnya dalam bentuk tulisan tangan. "Kalau di sekolah Minggu, kita belajar sambil bermain sambil nyanyi bareng-bareng." "Tapi, Bunda pernah bilang kalau aku sudah besar. Harusnya aku tidak boleh keseringan main-main." " Lho, tadi katanya hari Minggu buat istirahat?" si biarawati mengulum...

Sekolah Kok Minggu (Part 1)

Minggu pagi, seperti biasa Alerta cilik mengikuti rutinitas Bundanya untuk beribadah. Kali ini tempatnya lain lantaran belum ada seminggu Alerta pindah rumah. Sebetulnya Alerta enggan lantaran ia tak boleh berlari-larian seperti anak-anak kecil lainnya. Bunda berdalih kalau Alerta sudah bukan kanak-kanak lagi, cukup besar karena sudah masuk sekolah dasar. Di depan pintu masuk rumah ibadah, lima orang berdiri berjajar menyambut siapapun yang datang sembari mengulurkan tangan untuk bersalaman. Mereka juga menunjukkan tempat duduk yang masih kosong manakala orang yang datang tampak kebingungan. Ketika Alerta masuk, salah satu dari kelima orang tadi membungkuk dan berbicara kepada Alerta. Seorang lelaki tua dengan rambut lurus sebahu dan mulai beruban. Rasa-rasanya cocok apabila dipanggil kakek oleh anak-anak seusia Alerta. “Adik sudah kelas berapa?” tanya si lelaki tua. “Kelas satu SD,” jawab Alerta malu-malu. “Oh, masih SD. Ikut sekolah Minggu saja sama teman-teman y...

Semesta

Sabtu petang yang gerah, sepasang kekasih tengah terlibat percakapan di sebuah rumah kontrakan. "Sayang..." "Iya?" "Kamu sudah memikirkan nama anak kita nanti?" "Tentu sudah. Tak peduli anak kita laki-laki atau perempuan, aku akan memberikan nama dengan unsur semesta kepadanya. Nama adalah doa, bukan?" "Kenapa harus semesta? Kok terdengar seperti kofisyop yang katanya buka 24 jam itu? Apakah kamu ingin anak ini hobi begadang seperti kita berdua?" "Soalnya, aku punya firasat bahwa anak kita bukanlah anak biasa. Orang-orang tidak akan berani macam-macam dengannya. Siapa pula manusia yang berani mencari masalah dengan semesta?" "Apakah kamu tidak khawatir jika anak kita tidak punya teman nantinya? Sepertinya beban yang dia tanggung akan terasa berat dengan nama 'semesta' yang melekat." "Tidak. Semesta tidak akan pernah lelah dan semesta tidak akan pernah salah. Kalaupun orang-orang tidak ...

Racauan Pahlawan Super : Menghidupkan Rasa Lupa

Menjadi seseorang yang bermanfaat bagi banyak orang bisa jadi merupakan sebuah pencapaian. Siapa sih yang tidak mau menjalani hidup yang meaningful? Meski banyak yang bilang bahwa hidup itu hanya sementara, mung mampir ngombe (sekadar mampir minum), kalau kata orang Jawa, bukan berarti harus diisi dengan yang senang-senang saja, bukan? Lagipula, bukankah pada hakikatnya manusia hidup untuk saling membutuhkan? Sebelum meracau lebih jauh, akan lebih afdol rasanya apabila aku memperkenalkan diri. Jangan harap aku akan memberi tahukan namaku karena itu adalah rahasia besar. Terlalu riskan kalau namaku disebut-sebut secara sembarangan. Lagipula, bukankah ungkapan mengenal tak terbatas pada mengetahui nama saja? Bagiku, mengenal adalah kompilasi antara mengetahui nama, karakter, serta asumsi maupun fakta-fakta lain yang terlampir pada sosok tertentu. Jadi, sebut saja aku sebagai Pahlawan Super. Sebetulnya pada mulanya aku juga manusia. Manusia super, lebih tepatnya. Tadinya, me...

Mencicil Masa Depan

Besok adalah kali pertama bagiku untuk menjajakan rumah. Yang kujajakan bukanlah sembarang rumah, melainkan rumah masa depan. Tak jauh berbeda dengan rumah-rumah mewah yang ditawarkan di televisi oleh presenter acara gosip, rumah yang kutawarkan sama-sama belum mempunyai bentuk fisik. Yang kami jual adalah rencana, berikut suasana-suasana buatan yang tercakup di dalamnya. Kami menawarkan rumah masa depan. Sejujurnya aku sedikit gugup mengenai hari pertamaku menjajakan rumah. Jadi, aku memutuskan untuk melakukan simulasi dengan isteriku. Memperkirakan pertanyaan-pertanyaan yang sekiranya akan muncul dari calon pembeli. Paling tidak agar aku tak tampak dungu di hadapan calon pembeli esok hari. "Apa saja keunggulan rumah yang bapak tawarkan?" "Rumah ini berada di kawasan yang tenang dan asri. lengkap dengan rimbunan pohon-pohon peneduh. Lokasinya juga terbilang mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi. Selain itu, ada juga fasilitas umum berupa panggung terbuka ya...

Prediksi

Sumber: tahilalats “Ta, elo kenapa?” tanyamu ketika bertemu Alerta di lorong fakultas. Ia berjalan tertatih-tatih dengan ekspresi wajah menahan perih. “Gue habis bungee jumping sama trotoar,” seloroh Alerta sambil meringis. “Yaelah, seriusan. Itu kaki kenapa bonyok begitu? Kena begal lagi? Siang siang begini?,” semburmu. “Tadi ngerem di tikungan, gara-gara ada ibu-ibu belok sembarangan. Lagian, kasih tanda belok kiri, taunya lurus-lurus aja.” “Elo yang nabrak, atau ibu-ibunya?” “Gue yang hampir nabrak, tapi berhasil menghindar. Malah kena trotoar...” “Terus, ibu-ibunya?” “Ya... Sempat berhenti sebentar. Malah gue yang diomelin duluan. Apa salah hamba?” “Demi... Tapi memang kadang-kadang siapa yang berani ngomel duluan, justru yang bakal menang.” “Masalahnya, gue jadi inget nyokap. Doi pernah bilang kalau gue ngedumel liat ibu-ibu bawa motor sembarangan. Dikata kita lahir dari bongkahan batu, macam kera sakti, gitu?” “Tapi, elo sadar nggak k...

Relatif Seimbang

Alerta mengunyah salad di hadapannya tanpa selera. Padahal, paduan selada segar, jagung manis, dan tomat ceri yang tak kalah manis biasanya dapat dengan mudah menggugah seleranya. Dalam hati ia mengumpat, tak ikhlas mengorbankan puluhan ribu rupiah demi semangkuk hidangan sehat yang harus dikunyah dengan susah payah. " Cieee... Hidup sehat, makan salad," ledek Darren. "Kayaknya aku salah milih dressing. Nggak kuat asemnya." "Namanya juga balsamic vinegar. Kamu kenapa deh tetiba makan makanan begituan?" "Biar sehat, Ren. Lagipula, di menu nggak ada mayo," sebatang rokok lantas tersulut di sela jemari kiri Alerta. " Apaan. Sehat kok ngerokok, " "Siapa yang bilang mau hidup sehat? Aku maunya hidup seimbang," dengus Alerta kesal. "Seimbang apanya?" "Ya... Seimbang. Ngerokok iya, makan sehat juga iya. Seimbang kan relatif, Ren."