Skip to main content

Posts

Pertemuan dan Perjumpaan

Entah kenapa aku merasakan perbedaan antara pertemuan dan perjumpaan.  Rasaku bilang: pertemuan menyiratkan sebuah perjanjian, kesepakatan. Pertemuan sarat akan unsur kesengajaan. Bentuk-bentuk intimasi serta kepentingan turut terlibat, erat dan mengikat. Rasaku berucap: perjumpaan merupakan pertemuan yang tak direncanakan. Perjumpaan lebih mengatasnamakan takdir, ketidak sengajaan,  Tolong, jangan mintan penjelasan kenapa rasaku tak bisa menyamakan antara pertemuan dan perjumpaan. Aku bukan anak linguistik, atau manusia yang sehari-hari bergelut dengan ketatabahasaan. Rasaku memiliki logika dan nalarnya sendiri.  Jangan pula tanyakan tentang perpisahan, karena kali ini aku sekadar ingin membahas perjumpaan dan pertemuan. Jalan Kaliurang, 21 Maret 2016 Mengutuki hujan yang menderas di luaran. * edited soon, perhaps.

Mengenggam Pasir

Menjaga  manusia tak ubahnya menggengam pasir. Berilah mereka  ruang, sebab jikalau kamu menggengam mereka terlalu erat, kamu sekaligus membiarkan  makin banyak pasir terlepas mengalir lantas tertiup angin dan kembali membaur bersama butir-butir pasir lain yang berceceran hingga tak lagi bisa kamu kenali.  *** Siang ini begitu terik dan membakar. Matahari kelewat cerah sehingga kita berdua harus sama-sama memincingkan mata untuk dapat saling melihat wajah masing-masing. Di tepi pantai berpasir putih  ini hanya ada kita berdua. Duduk di tepian batang pohon kelapa sembari memandang ke arah laut lepas yang jernih, namun ternoda beraneka sampah-sampah plastik yang mengambang. Kita berdua membakar diri dalam panasnya mentari yang tengah tepat berada di atas kepala. Tanpa topi, tanpa penutup mata. Di jemari kita masing-masing telah tersulut sebatang rokok. Kamu yang duduk di sebelah kanan menyematkan rokokmu di jemari kanan, sementara rokokku terselip di jemari ki...

Kembali ke Jalan yang Benar

"Kamu mau jadi jurnalis, cik?" kata seorang teman saya pada suatu masa. Pertanyaan yang entah kenapa menimbulkan kesan pernyataan. Imej jurnalis di mata saya adalah sosok yang setrong, tangguh, tabah, dan tawakal dalam menghadapi segala bentuk ketidakpastian. Selain itu, jurnalis juga sosok yang tahu tujuan. Untuk urusan tangguh, tabah, dan tawakal dalam menghadapi segala bentuk ketidakpastian, bisa jadi saya sesuai kriteria. Akantetapi, untuk urusan tahu tujuan, entahlah. Saya orangnya literally suka kesasar soalnya. Saya sudah buat menghapal jalan menuju suatu tempat. Ehehehe.  Ingatan saya meluncur pada masa di mana saya menjadi mahasiswa semester tiga, atau sekitar lima semester yang lalu. Kala itu saya tengah menjalankan wawancara sebagai  salah satu proses seleksi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bergerak di bidang jurnalistik. Iya, saya baru mendaftar pada tahun kedua sebagai mahasiswa. Hal ini bukan tanpa alasan. Pada tahun sebelumnya saya sempat berproses di dua ...

Hari Selain Minggu

Aku selalu mengamati Ben setiap hari Minggu pagi. Minggu pagi yang benar-benar pagi, ketika aku menjalani  rutinitas mingguan bersama ibu. Rutinitas mingguan yang tentu juga menjadi rutinitas bagimu dan bagi segenap manusia yang menyempatkan waktu untuk bangun pagi-pagi benar, ketika mayoritas manusia-manusia lain sudah kembali lelap selepas menjalankan ibadah pagi harian dua raka'at mereka. Sejujurnya, aku selalu mempertanyakan alasan Ben, duduk sendiri dalam bangunan yang sama pada hari Minggu pagi. Iya, aku menyimpulkan Ben pergi sendiri dan pulang sendiri, meski dia selalu duduk bersisian dengan orang lain. Orang-orang yang duduk di sisinya selalu berbeda. Aku melihat Ben membuat jarak dengan mereka, meski lelaki berlesung pipit itu selalu tersenyum ketika menjabat hangat tangan-tangan mereka; entah lelaki, entah perempuan. Aku selalu menduga bahwa Ben tengah menjalani hubungan jarak jauh dengan perempuan. Meski tidak menutup kemungkinan apabila ternyata dia menjalin hu...

Ditunggu

photo source "Dek, nanti bisa ikut kondangan, kan? Di Wisma Kagama, lho," ujar ibu pagi itu.  Cuaca tampak kelabu berdebu, seakan mendung. Abu kelud yang menyembur terbawa angin hingga ke kotaku. "Jam berapa? Aku mau rapat tema," sahutku. Memang beginilah rutinitasku tiap sabtu pagi. Bahkan jalanan yang berselimut abu dan sebelah mataku yang kelilipan debu kurasa bukan alasan yang cukup untuk mangkir dari rutinitas tersebut. Alasannya sepele. Ada yang tengah menungguku. "Sore kok. Hujan abu begini mau jauh-jauh ke kampus? Mbok nggak usah aja ," ibuku menanggapi. Aku tahu beliau pasti khawatir putrinya berkendara dengan kondisi jalan yang embuh.  "Aku ditunggu, soalnya. Nggak papa. lah. Sekalian liat-liat. Nanti aku balik kok, bisa ikut kondangan," sahutku. Tak berapa lama, aku memacu skuter matic warna merah jambu. Benar saja. Jalanan tampak buram penuh debu. Pun aku tak berani memacu motorku terlalu laju. Aku harus tiba di tujuan, ...

Cerita di balik Penciptaan Sebuah Cerita

 "Berangkat dulu ya, bu," ujar Uli pada ibunya sembari setengah berlari terburu-buru. Di tangan kanan Uli terdapat lima helai kertas yang sudah di stapler jadi satu. Kelima helai kertas tersebut kemudian diletakkan di sebuah meja, tepat di sisi kiri tumpukan kertas lain yang lebih tinggi. "Jangan pulang malem-malem, ya dek. Eling lho... ," ibu menyahut. Tak berapa lama terdengar suara saklar lampu dipadamkan, pintu dikunci, dan motor yang menderu. Suasana kamar Uli remang dengan sedikit cahaya yang merembes melalui ventilasi udara. Lima menit berlalu. Sunyi. Hingga kemudian dua tumpukan kertas di meja kamar mulai berbicara. "Halo. Kamu tulisan mbak Uli yang baru, ya?," ujar tumpukan tebal kertas berisikan jurnal bahan kuliah komunikasi kontemporer berikut review-reviewnya.  "Iya.  Aku cerita yang di tulis sama mbak Uli. Kamu juga, kah?," jawab lima helai kertas yang sudah di stapler tadi.  "Hmm... sebenarnya cuma sebagian ya...

Harap Tenang, Ada Ujian! ; Kesenjangan dan Prasangka

  Image captured from here . Maaf kalo image  ratio nya kurang proporsional :p      Written and directed by:  Ifa Isfansyah      Cast :  Fendy Riyadi ,  Takahiro Saito ,       Hiroaki Kato Sabtu pagi, 27 Mei 2006, gempa berkekuatan 5,9 SR mengguncang kawasan Yogyakarta. Kebetulan, sepuluh hari lagi akan diadakan ujian nasional bagi murid sekolah dasar. Sebelum gempa terjadi, seorang bocah lelaki (yang seingat saya tidak disebutkan namanya) tengah belajar untuk ujian nasional. Sehabis gempa pun, si bocah tetap lanjut belajar di antara reruntuhan-puing rumahnya. Penjajahan Jepang terhadap Indonesia di masa silam adalah materi ujian yang tengah dibaca dengan lantang oleh si bocah. Narasi penderitaan akibat serangan Jepang kemudian disandingkan dengan gambaran penderitaan korban gempa Yogyakarta pada 2006 silam. Kemunculan dua oran relawan asal Jepang pun membuat film produksi 2006 ini menjadi ...

Segalanya Berubah

Selamat lewat tengah malam  pagi, sanak saudara dan handai taulan~ Entah udah berapa lama saya nggak ngisi blog ini dengan aneka macam tulisan yang maha random seperti biasanya. Sebenernya, saya masih nulis sih, cuman nggak diposting di blog ini aja. Belakangan lagi sibuk mencari kesibukan, soalnya. Ora ding.. Aku sibuk tenanan nganti ra sempet jogging barang.  Hiks. Padahal kan ono.... Duh, omongan saya jadi ngelantur gini. Maklum, udah lama nggak nyampah macam begini :').  Anyway, belum ada sebulan ini saya kembali menginjakkan kaki ke Yogyakarta setelah hampir dua bulan menjalankan tugas sekaligus kewajiban sebagai mahasiswa. Tugas yang mana? Skripsi po?? Oralah.. plis.. Saya baru sampai tahap KKN kok :'). * njuk ketauan angkatan piro * Biar keliatan KKN, kudu pajang foto pas pake baju KKN. Maunya nyari foto yang ramean. Sayangnya saya seringan jadi yang ngefoto, jadi...  ;') *update* Akhirnya nemu foto yang ramean. :) Well, yang namany...

Berlari Bebas dan Keseimbangan

Selamat menjelang pagi, khalayak ramai. Sepertinya saya cukup lama tidak menciptakan postingan yang menginspirasi sanak saudara dan handai taulan sekalian. *kemudian dikeplak* *biasane nyampah padahal*. Jadi, belakangan saya memang keseringan pulang malam dengan keadaan kelelahan. Sampai rumah langsung tidur, dan bahkan tidak sempat membersihkan wajah dan maskeran :( *ceritanya sedih*. Ya, mau bagaimana lagi. Tuntutan mahasiswa semester (ketoke) akhir memang demikian. Apalagi ini semester genap. Konon kabarnya semester-semester semacam inilah yang biasanya paling menguras waktu, tenaga , hati, dan perasaan.  Apalagi ditambah persiapan KKN yang makin dekat. Alhasil, rencana untuk menindaklanjuti postingan ini sekadar menjadi wacana belaka. Anyway , akhirnya saya, pada hari ini, sabtu (23/5), sembari memperdengarkan aneka bebunyian random melalui sonklot, saya ngepost di blog ini lagi. Mungkin jari-jemari saya gatel, pengen ngetik tulisan-tulisan random setelah akhirnya kembali me...

Trust

"Do you trust them?" tanyamu di suatu hari gerimis. "Yeah.. sure..." jawabanku mengalir sedingin udara yang menyelimuti kita. "Tapi kamu belum cerita kejadian malam itu pada mereka?" "Sudah..." "Dan perlakuan mereka tetap sama?" "Sepertinya begitu..." "Tunggu dulu.. Apakah kamu benar-benar menceritakan kejadian yang sebenar-benarnya? " " I told them... as a jokes... Ceritaku sejalan dengan bagaimana cara ibuku menceritakan kejadian itu pada mereka." " Seriously?  Jangan begitulah. Apa salahnya sih berkata jujur? Apa karena mereka tidak sekelamin denganmu?" "Loh, aku sudah jujur kok. Please, jangan bawa-bawa selangkangan..." jawabanku makin ketus. "Kalau kamu jujur, mungkin mereka akan memperlakukanmu lebih baik" "Mungkin aku tidak ingin pencitraanku runtuh," "Cihh... Masih mikirin pencitraan. Katanya mau bikin citra baru?" "E...