Skip to main content

Posts

Motivasi Bodoh

"Astaga... kamu ngurusin badan cuman demi baju itu, cik?? "  Kalimat di atas entah benar-benar diucapkan oleh salah seorang teman, entah tidak. Saya tidak begitu ingat. Yang saya ingat adalah judul tulisan ini, salah satu tulisan yang nyaris membusuk di draft postingan blog saya. Ingatan yang seketika muncul lantaran Selasa kemarin (7/2) saya sok-sokan selo lantas menemui salah seorang teman kuliah saya yang sudah sahih menjadi sarjana. Sebut saja namanya Didi, yang kini sudah tidak lagi menyandang status sebagai beban negara maupun beban orangtua. Saya mengenal Didi semenjak awal kuliah, dan kami sempat sama-sama pergi ke Bali berdua saja. Sebuah kenekatan yang hakiki yang kala itu hanya bisa saya abadikan dengan memori lantaran saya belum memiliki ponsel pintar maupun kamera. Sunset di Sanur. Kayaknya yang ngefoto Didi. Ehehehe.  Laiknya teman lama (padahal terakhir ketemu juga baru kapan), kami banyak bercerita tentang macam-macam hal seperti bagaimana bisa tem...

Enam Pertimbangan Memilih Tempat Nongkrong

Selamat malam, sanak saudara dan handai taulan. Sejatinya saya sudah berulang kali ingin kembali meramaikan linimasa dengan postingan berfaedah. Faedah buat siapa? Paling tidak buat diri saya sendiri. Ehehehe. Soalnya, menulis hal-hal random bagi saya adalah salah satu upaya untuk membebaskan diri dari rasa sesal lantaran seakan-akan saya belakangan cenderung kurang produktif sembari menyalurkan berbagai macam hal yang suka tawuran sendiri dalam benak saya.  Pada mulanya, saya bermaksud untuk mereview bermacam tempat nongkrong/ hengot seperti yang pernah saya janjikan dalam postingan ini maupun ini . Namun demikian, belakangan saya sadar bahwa omongan saya (yang lantas dijadikan sebagai tulisan di blog) cenderung pedes, sehingga bibir saya udah pas banget kalau mau diiket pakai dua karet. Kasihan kalau nanti tempat hengotnya bangkrut gara-gara pada nemu review saya yang nganu. Ehehehe. #alesanajasih. Tapi, kalau butuh pertimbangan, bisa tanya saya secara personal kalau k...

Weekend Berfaedah : Workshop #LifeGoalsFashion bersama Erni Kurniawati

Mengenang Mata

Air Mata Dali, Captured on Artjog9 Aku tak ingat apakah sepasang mata itu milikmu atau bukan.  Aku tak tahu persis sejak kapan sepasang mata itu kembali membuatku mengenang. Karena aku tak yakin sepasang mata yang kulihat itu matamu atau bukan, perkenankanlah aku menceritakan sepasang mata yang tetiba ingin ku kenang itu. Perlu kamu tahu,entah sudah berapa juta pasang mata manusia yang pernah coba kubaca. Kali ini, kita hanya akan membicarakan tentang mata manusia saja. Kalau yang bukan manusia juga  masuk hitungan, pastilah hitung-hitungannya berlipat-ganda. Mata yang langsung menghindar malu-malu ketika mataku mencoba mengajak bertemu. Mata yang melirik ke samping ketika sang empunya berniat menipu.  Mata yang menyimpan dendam dan ambisi tersembunyi tiap kali menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terlontar. Sepasang mata itu beda, meski aku mengakui bahwa aku belum pernah menemui manusia dengan sorot mata yang persis sama. Caranya menatap dunia benar-benar men...

7 Tempat Nongkrong Jogja yang Tetap Buka sebelum Waktu Berbuka

Samlekhomm~ Masih pada lancar puasanya? Yang nggak puasa, gimana? Nggak pada jajan sembarangan, kan ? Well, sebagai salah seorang oknum warga negara Indonesia yang sejak lahir tidak diwajibkan untuk berpuasa, belakangan saya sering kesulitan cari tempat nongkrong di Jogja. Yha, mau bagaimana lagi. Pergeseran jam operasional tentu merupakan hal yang wajar di bulan  yang konon kabarnya penuh barokah, ini. Sayangnya, jam operasional otak dan perut saya nggak bisa serta-merta ikut-ikutan geser. Waktu sahur aja saya hampir nggak pernah kebangun. Hehe.  Sementara itu, siang-siang perut saya juga sering keroncongan sembarangan, Kalau sudah begini, saya tentu cari tempat yang bisa memenuhi kebutuhan saya tersebut. Kebutuhan apa? Kebutuhan akan tempat nongkrong, tentunya. Yang jelas, tempatnya harus tidak terlalu terekspos khalayak ramai sehingga saya tidak memicu anak SD yang lagi belajar puasa dan lewat di sembarang jalan. Berdasarkan penelusuran langsung yang saya lakukan semenj...

Perjalanan Alerta: Perpisahan

Darren dan Alerta melangkah dalam gerbong kereta yang tengah melaju dalam kecepatan cahaya.Meski melaju dalam kecepatan cahaya, langkah kaki-kaki mereka samasekali tak goyah. Teknologi memang luar biasa. Bahkan seorang pencerita tua berjambang putih pun melangkah menuju tempat duduknya dengan tenang, tanpa tampak tergoncang-goncang. Hampir seluruh tempat duduk di gerbong tersebut sudah diduduki manusia. Sejenak, Alerta melirik nomor tempat duduk yang tertera di lembaran tiketnya. 16 A, bersebelahan dengan Darren. Alerta pun bisa leluasa apabila ingin duduk di sebelah jendela sembari mengamati lintasan perjalanan, atau di sisi satunya apabila memilih untuk mengamat-amati penumpang lain yang juga sesama pencerita. Tak seberapa lama mereka telah duduk di bangku bernomor 16.  "Perjalanan kita masih panjang. Aku ceritanya ntar aja , ya," Darren memulai percakapan. "Terus, kita ngapain selama awal perjalanan ini?" "Begini... Aku punya permainan....

Konferensi Pencerita

Alerta, seorang perempuan muda yang selalu mengenakan lipstick merah tua, baru saja akan pindah ke sebuah kota kecil demi memulai hidup baru. Kota kecil nan teduh dan tenang, di mana orang-orang tak pernah mengeluh dengan teramat riuh. Kota kecil dengan sebuah danau jernih yang membentang dan membuat suasana kian teduh, di mana ikan-ikan berkecipak tanpa menimbulkan kesan gaduh. Alerta memilih hijrah dari sebuah kota metropolutan  bukan tanpa alasan. Di satu sisi, Alerta tak keberatan atau bahkan menyukai karakter manusia-manusia individual yang berdiam di kota metropolutan itu tadi. Manusia-manusia yang dengan bebasnya mengasapi minimarket 24 jam di tepi-tepi jalanan beraspal. Manusia-manusia yang tak terlalu ambil pusing dengan apa yang akan mereka makan, namun betul-betul mempertimbangkan pakaian macam apa yang akan mereka kenakan. Sebagai bagian dari segelintir umat manusia yang tak suka mencampuri urusan orang lain, kondisi kota metropolutan terbilang relatif ideal ...

Surat Wasiat

Tiga hari lalu, channel natgeo di yutub mengunggah video di atas. Saya lantas jadi teringat omongan random saya terkait 'apa yang akan kamu lakukan pada ragamu setelah mati?'. Omongan random ini sempat saya utarakan beberapa kali sebagai bentuk keprihatinan saya terhadap minimnya lahan pemakaman di salah satu kawasan tempat leluhur saya dimakamkan. Seperti layaknya masyarakat jawa yang setiap tahun berkunjung ke makam leluhur pada peringatan-peringatan tertentu, obrolan mengenai tergusurnya fungsi lahan pemakaman menjadi kawasan perumahan sudah menjadi percakapan rutin. Kebetulan pemakaman segelintir leluhur saya memang berada di kawasan perumahan. Sepintas, menarik memang melihat 'rumah masa kini' berdampingan dengan 'rumah masa depan'. Namun demikian, bukankah yang terbujur di dalam liang lahat sana tak punya kuasa untuk selalu 'hidup' nyaman di 'rumah masa depan' mereka? Sementara kehidupan-kehidupan baru terus-menerus menuntut untuk juga...

Love, Hate, and Need : Relasi Saya dengan Media Sosial

Don't hate the media. Become the media! (J. Biafra)  Kutipan diatas saya comot dari salahsatu bagian tembok yang terpampang di kantor jurusan saya. Maafkan jikalau tidak saya cantumkan gambarnya secara langsung karena kutipan ini memang nggak se- hits kutipan "Crafting well informed society" yang sering banget dipake buat background foto yang pada kelar pendadaran, Ehehehe. Yha, kantor jurusan saya belakangan dipindah ke lantai lima, sih. Tapi sepertinya kutipan-kutipan yang ditulis dengan warna putih dan latar biru bermotif kotak-kotak ini masih ada. Cuman saya juga nggak tahu dipindah di sebelah mana tepatnya. Baiklah. Kembali ke topik yang berkaitan dengan judul tulisan ini. Tanpa bawa-bawa embel-embel sebagai anak konsentrasi media, saya  adalah umat manusia yang terkadang atau sering turut serta dalam arus utama. Maksudnya, saya juga bagian dari para manusia yang memiliki beragam akun media sosial yang tersemat dalam gawai berbasis android di genggaman tanga...

Pertemuan dan Perjumpaan

Entah kenapa aku merasakan perbedaan antara pertemuan dan perjumpaan.  Rasaku bilang: pertemuan menyiratkan sebuah perjanjian, kesepakatan. Pertemuan sarat akan unsur kesengajaan. Bentuk-bentuk intimasi serta kepentingan turut terlibat, erat dan mengikat. Rasaku berucap: perjumpaan merupakan pertemuan yang tak direncanakan. Perjumpaan lebih mengatasnamakan takdir, ketidak sengajaan,  Tolong, jangan mintan penjelasan kenapa rasaku tak bisa menyamakan antara pertemuan dan perjumpaan. Aku bukan anak linguistik, atau manusia yang sehari-hari bergelut dengan ketatabahasaan. Rasaku memiliki logika dan nalarnya sendiri.  Jangan pula tanyakan tentang perpisahan, karena kali ini aku sekadar ingin membahas perjumpaan dan pertemuan. Jalan Kaliurang, 21 Maret 2016 Mengutuki hujan yang menderas di luaran. * edited soon, perhaps.