Skip to main content

Posts

Hari Selain Minggu

Aku selalu mengamati Ben setiap hari Minggu pagi. Minggu pagi yang benar-benar pagi, ketika aku menjalani  rutinitas mingguan bersama ibu. Rutinitas mingguan yang tentu juga menjadi rutinitas bagimu dan bagi segenap manusia yang menyempatkan waktu untuk bangun pagi-pagi benar, ketika mayoritas manusia-manusia lain sudah kembali lelap selepas menjalankan ibadah pagi harian dua raka'at mereka. Sejujurnya, aku selalu mempertanyakan alasan Ben, duduk sendiri dalam bangunan yang sama pada hari Minggu pagi. Iya, aku menyimpulkan Ben pergi sendiri dan pulang sendiri, meski dia selalu duduk bersisian dengan orang lain. Orang-orang yang duduk di sisinya selalu berbeda. Aku melihat Ben membuat jarak dengan mereka, meski lelaki berlesung pipit itu selalu tersenyum ketika menjabat hangat tangan-tangan mereka; entah lelaki, entah perempuan. Aku selalu menduga bahwa Ben tengah menjalani hubungan jarak jauh dengan perempuan. Meski tidak menutup kemungkinan apabila ternyata dia menjalin hu...

Ditunggu

photo source "Dek, nanti bisa ikut kondangan, kan? Di Wisma Kagama, lho," ujar ibu pagi itu.  Cuaca tampak kelabu berdebu, seakan mendung. Abu kelud yang menyembur terbawa angin hingga ke kotaku. "Jam berapa? Aku mau rapat tema," sahutku. Memang beginilah rutinitasku tiap sabtu pagi. Bahkan jalanan yang berselimut abu dan sebelah mataku yang kelilipan debu kurasa bukan alasan yang cukup untuk mangkir dari rutinitas tersebut. Alasannya sepele. Ada yang tengah menungguku. "Sore kok. Hujan abu begini mau jauh-jauh ke kampus? Mbok nggak usah aja ," ibuku menanggapi. Aku tahu beliau pasti khawatir putrinya berkendara dengan kondisi jalan yang embuh.  "Aku ditunggu, soalnya. Nggak papa. lah. Sekalian liat-liat. Nanti aku balik kok, bisa ikut kondangan," sahutku. Tak berapa lama, aku memacu skuter matic warna merah jambu. Benar saja. Jalanan tampak buram penuh debu. Pun aku tak berani memacu motorku terlalu laju. Aku harus tiba di tujuan, ...

Cerita di balik Penciptaan Sebuah Cerita

 "Berangkat dulu ya, bu," ujar Uli pada ibunya sembari setengah berlari terburu-buru. Di tangan kanan Uli terdapat lima helai kertas yang sudah di stapler jadi satu. Kelima helai kertas tersebut kemudian diletakkan di sebuah meja, tepat di sisi kiri tumpukan kertas lain yang lebih tinggi. "Jangan pulang malem-malem, ya dek. Eling lho... ," ibu menyahut. Tak berapa lama terdengar suara saklar lampu dipadamkan, pintu dikunci, dan motor yang menderu. Suasana kamar Uli remang dengan sedikit cahaya yang merembes melalui ventilasi udara. Lima menit berlalu. Sunyi. Hingga kemudian dua tumpukan kertas di meja kamar mulai berbicara. "Halo. Kamu tulisan mbak Uli yang baru, ya?," ujar tumpukan tebal kertas berisikan jurnal bahan kuliah komunikasi kontemporer berikut review-reviewnya.  "Iya.  Aku cerita yang di tulis sama mbak Uli. Kamu juga, kah?," jawab lima helai kertas yang sudah di stapler tadi.  "Hmm... sebenarnya cuma sebagian ya...

Harap Tenang, Ada Ujian! ; Kesenjangan dan Prasangka

  Image captured from here . Maaf kalo image  ratio nya kurang proporsional :p      Written and directed by:  Ifa Isfansyah      Cast :  Fendy Riyadi ,  Takahiro Saito ,       Hiroaki Kato Sabtu pagi, 27 Mei 2006, gempa berkekuatan 5,9 SR mengguncang kawasan Yogyakarta. Kebetulan, sepuluh hari lagi akan diadakan ujian nasional bagi murid sekolah dasar. Sebelum gempa terjadi, seorang bocah lelaki (yang seingat saya tidak disebutkan namanya) tengah belajar untuk ujian nasional. Sehabis gempa pun, si bocah tetap lanjut belajar di antara reruntuhan-puing rumahnya. Penjajahan Jepang terhadap Indonesia di masa silam adalah materi ujian yang tengah dibaca dengan lantang oleh si bocah. Narasi penderitaan akibat serangan Jepang kemudian disandingkan dengan gambaran penderitaan korban gempa Yogyakarta pada 2006 silam. Kemunculan dua oran relawan asal Jepang pun membuat film produksi 2006 ini menjadi ...

Segalanya Berubah

Selamat lewat tengah malam  pagi, sanak saudara dan handai taulan~ Entah udah berapa lama saya nggak ngisi blog ini dengan aneka macam tulisan yang maha random seperti biasanya. Sebenernya, saya masih nulis sih, cuman nggak diposting di blog ini aja. Belakangan lagi sibuk mencari kesibukan, soalnya. Ora ding.. Aku sibuk tenanan nganti ra sempet jogging barang.  Hiks. Padahal kan ono.... Duh, omongan saya jadi ngelantur gini. Maklum, udah lama nggak nyampah macam begini :').  Anyway, belum ada sebulan ini saya kembali menginjakkan kaki ke Yogyakarta setelah hampir dua bulan menjalankan tugas sekaligus kewajiban sebagai mahasiswa. Tugas yang mana? Skripsi po?? Oralah.. plis.. Saya baru sampai tahap KKN kok :'). * njuk ketauan angkatan piro * Biar keliatan KKN, kudu pajang foto pas pake baju KKN. Maunya nyari foto yang ramean. Sayangnya saya seringan jadi yang ngefoto, jadi...  ;') *update* Akhirnya nemu foto yang ramean. :) Well, yang namany...

Berlari Bebas dan Keseimbangan

Selamat menjelang pagi, khalayak ramai. Sepertinya saya cukup lama tidak menciptakan postingan yang menginspirasi sanak saudara dan handai taulan sekalian. *kemudian dikeplak* *biasane nyampah padahal*. Jadi, belakangan saya memang keseringan pulang malam dengan keadaan kelelahan. Sampai rumah langsung tidur, dan bahkan tidak sempat membersihkan wajah dan maskeran :( *ceritanya sedih*. Ya, mau bagaimana lagi. Tuntutan mahasiswa semester (ketoke) akhir memang demikian. Apalagi ini semester genap. Konon kabarnya semester-semester semacam inilah yang biasanya paling menguras waktu, tenaga , hati, dan perasaan.  Apalagi ditambah persiapan KKN yang makin dekat. Alhasil, rencana untuk menindaklanjuti postingan ini sekadar menjadi wacana belaka. Anyway , akhirnya saya, pada hari ini, sabtu (23/5), sembari memperdengarkan aneka bebunyian random melalui sonklot, saya ngepost di blog ini lagi. Mungkin jari-jemari saya gatel, pengen ngetik tulisan-tulisan random setelah akhirnya kembali me...

Trust

"Do you trust them?" tanyamu di suatu hari gerimis. "Yeah.. sure..." jawabanku mengalir sedingin udara yang menyelimuti kita. "Tapi kamu belum cerita kejadian malam itu pada mereka?" "Sudah..." "Dan perlakuan mereka tetap sama?" "Sepertinya begitu..." "Tunggu dulu.. Apakah kamu benar-benar menceritakan kejadian yang sebenar-benarnya? " " I told them... as a jokes... Ceritaku sejalan dengan bagaimana cara ibuku menceritakan kejadian itu pada mereka." " Seriously?  Jangan begitulah. Apa salahnya sih berkata jujur? Apa karena mereka tidak sekelamin denganmu?" "Loh, aku sudah jujur kok. Please, jangan bawa-bawa selangkangan..." jawabanku makin ketus. "Kalau kamu jujur, mungkin mereka akan memperlakukanmu lebih baik" "Mungkin aku tidak ingin pencitraanku runtuh," "Cihh... Masih mikirin pencitraan. Katanya mau bikin citra baru?" "E...

Kedai IQ

Berkaitan dengan postingan saya yang ini , saya bermaksud membuat postingan lain. Ini postingan pertama saya terkait artefak hidup saya yang saya ambil secara acak dari tumpukan-tumpkan artefak lainnya. Karea kebetulan berupa struk tempat makan, mungkin postingan kali ini jatohnya malah kayak review tempat makan. Tapi, yasudahlah.. Suka-suka saya sajalah ya~ Jadi, ceritanya waktu (10/1) itu saya pulang natalan kmk fakultas. Sebenarnya sore itu saya juga diajakin dolan ke Edu park. Cuman yo waktunya nanggung, soalnya natalannya juga mulai sore-sore gitu. Karena dapat makan, Sebagai anak beriman, saya milih natalan dong. Karena pulangnya kurang malem, terus sebagian yang ikut natalan memilih untuk melanjutkan dengan karaokean. Saya sih ngikut, masih sore ini. Nah, habis karaokean, saya sama Adisti (teman saya yang ikutan karaokean jugak) ngerasa males aja kalo langsung pulang. Jadi, kami memutuskan untuk mampir nongkrong sambil ngemil. Karena saat itu sudah hampir tengah malam, ...

Menyimpan Kenangan

To keep or not to keep; that is the question. Selamat hari senin! Hari minggu kemarin, saya beres-beres kamar dan menemukan sekumpulan kertas-kertas kecil bertulisan. Kebanyakan berupa struk belanjaan dan nota tempat makan yang kebetulan pernah mengisi dompet saya. Ada juga tiket tempat wisata. Tidak heran kalau dompet saya tebal. Dompet saya penuh kenangan~ Anyway, waktu beres-beres, saya sempat membaca kertas-kertas tersebut dan berusaha mengingat kenangan-kenangan yang terlampir di dalamnya. Saya kok eman-eman (sayang) buat ngebuang kertas-kertas itu, ya? yasudah, jadi saya simpan sahaja. Semuanya?? Tentu tidak. Sebagian saja, yang masih saya ingat peristiwanya. Kertas-kertas tersebut jadi semacam artefak buat hidup saya. Sayang, tidak semua kertas-kertas tersebut dapat terbaca dengan baik. Seperti membicarakan kenangan yang butuh pemicu ketika segalanya terlanjur lalu. Pemicu tersebut harus cukup kuat agar yang lalu bisa kembali diingat. Jadi, suatu saat nanti, ...

I dare you, Dear!!

sebelumnya ... *** "Darren!!" Alerta menegur Darren yang tampak sedang melamun. Siang itu terik dan Alerta memang sengaja mengajak Darren untuk menemaninya nongkrong.Alerta mencoba melupakan masalahnya dengan Darren kemarin malam, terlebih setelah Darren mendapat luka lebam di pelipisnya karena dihantam oleh Hans ketika Darren menemui Alerta. Alerta merasa bersalah karena memang pukulan tersebut merupakan bentuk pembelaan Hans sebagai sepupunya. Lagipula, Darren sudah minta maaf pada Alerta dan mengaku sadar akan kesalahannya. Bagi Alerta, itu sudah cukup. Maka dari itu, sebagai ungkapan rasa bersalah, Alerta mentraktir Darren makan siang. " Gimana  luka kamu? Masih sakit?" tanya Alerta. Jemarinya menelusur perlahan memeriksa lebam di pelipis Darren. "Dikit.. " Darren  nyengir.  Jemarinya meraih sekotak rokok di meja dan mengambil sebatang kemudian mencari-cari pemantik di saku celananya. Alerta pun dengan segera menyodorkan pemantik mungil warna...